Aku Ingin Hidup Bahagia, Tua Bahagia, Dan Mati Bahagia Posted: April 7, 2013 in Uncategorized 0

 

Dahulu kala ketika kukecil, sering kali aku merasa bahwa kebahagian itu adalah ketika besar nanti aku bisa menjadi seorang dokter. Kenapa dokter? Karena buatku menjadi seorang dokter memberikan kesan bahwa aku adalah orang yang luar biasa. Kenapa luar biasa? Karena seorang dokter adalah orang yang sangat berani bergerak dan berani bertindak, tidak hanya dengan kelengkapan anggota tubuhnya saja, tapi juga dengan hatinya. Apa jadinya bila seorang dokter tidak memiliki hati yang lembut yang bisa menenangkan? Mungkin pasien sakit akan bertambah parah sakitnya. Itulah mengapa ketika kukecil, aku amat mengagumi dan bercita-cita menjadi dokter.

Ketika beranjak duduk di bangku SMP, aku mulai berpikir ulang bahwa tanggung jawab seorang dokter amatlah berat karena menyangkut masalah kelangsungan hidup manusia. Lalu, aku berpikir seandaianya kelak aku menjadi pengajar saja bukan seorang dokter. Kenapa mengajar? Karena hal sederhana ini diilhami dari Ayahki tercinta. Dia adalah seorang pengajar. Usianya sudah lebih dari separuh abad masa keemasan hidup. Tapi, ada yang membuatnya selalu terlihat berbeda ketika usai bekerja. Senyum tak pernah lepas tersungging dari wajahnya yang menenangkan. Ayahku adalah orang yang begitu penuh cinta dan kasih sayang luar biasa, tak henti-hentinya kukagumi dirinya. Suatu ketika aku pernah bertanya padanya, “Yah, apa asyiknya menjadi seorang pengajar?”. Ayah  menjawab, “Lebih banyak lelahnya karena kamu harus menghadapi banyak anak-anak dengan kepribadian yang berbeda.”. Kemudian aku kembali bertanya, “Kenapa Ayah masih betah menjadi seorang pengajar kalau begitu?”. Dan jawaban akhir dari Ayah adalah, “Karena senyum mereka, tawa mereka, canda mereka, akan selalu membuat kita rindu untuk terus bertemu.”. Rindu bertemu dalam suatu majelis Ilmu adalah hal yang bagiku begitu luar biasa. Aku ingin menjadi sosok seperti Ayah yang selalu bahagia.

Namun, kejadiannya berbeda lagi ketika akhirnya aku duduk di bangku SMA. Ternyata aku mulai berpikir lagi bahwa menjadi pengajar tanggung jawabnya justru lebih berat dibanding menjadi seorang dokter. Pengajar adalah gurunya para dokter, tiada berdaya seorang dokter yang hebat sekalipun tanpa seorang pengajar yang luar biasa di masa kecilnya. Akupun merasa bahwa diriku masih jauh dari siap untuk memikul tanggung jawab sebesar itu. Karena di hari akhir nanti kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban masing-masing. Pencarian “Akan jadi apa aku kelak?” masih terus terbenak di dalam diri ini. Akan jadi apa aku nanti? Apa yang akan aku lakukan? Dan apa yang bisa kukerjakan? Pertanyaan-pertanyaan itu masih saja membekas dalam diri hingga akhirnya aku berpikir pada suatu profesi yang lebih terlihat gagah, yaitu polisi. Keluargaku adalah keluarga polisi, semua adik Ayah bekerja sebagai polisi, dan sepupu-sepupuku juga berseragamkan pamong masyarakat itu. Jadi, aku dikelilingi para pamong masyarakat yang berada dalam lingkaran keluarga. Kenapa polisi? Karena selain terlihat gagah, menjadi polisi juga merupakan amanah yang tidak kalah hebatnya dari menjadi dokter maupun pengajar. Membimbing dan mengayomi masyarakat adalah pekerjaan mulia, aku berpikir bahwa mungkin kebahagian bisa kudapatkan dari sana.

Tapi ternyata belakang ini aku mulai berpikir pada tujuan akhir hidupku. Ternyata aku hanya menginginkan menjadi seorang yang bahagia. Orang yang dikelilingi malaikat-malaikat kecil pada masa tua dengan seorang bidadari yang membawa separuh hatiku nanti. Orang yang sejak masa muda terbiasa berjalan dengan masalah, namun senyum tetap melekat di bibirnya. Orang yang menghabiskan masa muda karena persahabatan dan persaudaraan. Orang yang bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Orang yang senantiasa merasa senang bila berbagi. Dan orang yang tak pernah lepas dari cinta pada agama dan Tuhannya, Allah SWT.

Bagiku, hakikat hidup yang sebenarnya adalah mencari kebahagian. Bahagia yang seperti apa? Bahagia itu adalah hal yang relatif bagi tiap kepala. Untukku pribadi, bahagia adalah ketika aku bisa merasakan sensasi sejuknya es krim di tengah terik matahari misalnya, itu adalah sebagian kecil dari kebahagiaan. Menjadi apapun aku nanti ketika diri ini tidak pernah merasa bahagia, maka hal itu akan terasa sia-sia. Bahagia haruslah menajdi inti dari setiap hal yang kelak kukerjakan dan kulakukan.

Jadi, bahagia bagiku adalah hal yang paling utama yang akan menjadi tujuan akhir hidupku kelak. Dalam karir, mungkin kebahagian itu adalah ketika kelak aku bisa bekerja sepenuh hati mengabdi bagi negara di Kementerian Keuangan. Menjadi punggawa keuangan negara yang memimpin pengelolaan keuangan negara. Dalam dunia kerja nanti pastinya aku akan merasa lelah usai bekerja. Wajar karena pasti pikiran dan perasaan akan tersita guna mengabdi demi pembangunan  negara yang jauh lebih baik. Hal itu akan menjadi salah satu dari kebahagian apabila negara ini memiliki pengelolaan keuangan yang semakin baik pula. Itu artinya perjuanganku dan rekan-rekan nanti tiada berbuah sia-sia. Lalu? Tentunya aku akan bahagia pada akhirnya. Bahagia itu ternyata sederhana. Bahkan, aku akan berbahagia lagi ketika pencapaian karir ini diiringi dengan dorongan istri yang luar biasa serta semangat dari anak-anak kami kelak nantinya. Ketika lelahnya bekerja terasa, maka hangatnya keluarga adalah penawarnya. Bahagianya hidup berawal dari bahagianya hati, jadi aku sudah mendambakan keluarga yang bahagia dalam mendampingi perjalanan karirku ke depannya.

Lalu apakah aku tidak mengingkan hal spesifik dalam dunia karirku nanti? Tentunya semua orang punya keinginan untuk itu. Lalu apa yang aku mau? Sederhana, aku tetap hanya ingin bahagia dengan profesiku sebagai punggawa keuangan negara. Aku cuma perlu bekerja lebih keras dengan hati yang bahagia, maka aku tidak akan pernah menyesal atas hasil kerjaku nantinya. Karena kebahagian akan sirna ketika kita tidak menghargai hasil kerja kita sendiri. Bagaimana dengan pencapaian pangkat yang lebih tinggi lagi? Tentunya sebagian besar orang akan tergiur dengan hal itu, sama juga denganku. Aku juga menginginkan hal itu. Tapi, jujur saja aku benar-benar belum bisa berpikir sampai level mana pangkat yang benar-benar kuharapkan. Karena orientasiku saat ini adalah mencari bahagia dan ridho Yang Maha Kuasa. Aku cuma perlu hidup bahagia. Aku ingin menghabiskan masa tua dengan bahagia bersama keluarga dan cucu-cucuku yang lucu-lucu kelak nantinya. Dan untuk menutup lembaran hidup ini, aku ingin mati dengan cara yang bahagia pula karena ketika hidup di dunia saya selalu merasa bahagia. Orang bahagia adalah orang yang tiada pernah menyesal pada akhir hayatnya.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s