Human being

Every human being on this earth is born with a tragedy, and it isn’t original sin. He’s born with the tragedy that he has to grow up. That he has to leave the nest, the security, and go out to do battle. He has to lose everything that is lovely and fight for a new loveliness of his own making, and it’s a tragedy. A lot of people don’t have the courage to do it.

S(IV). peran PGRI dalam Memperjuangkan nasib guru dan Meningkatkan Profesionalisme Guru

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
PGRI lahir pada 25 November 1945, setelah 100 hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Cikal bakal organisasi PGRI adalah diawali dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912, kemudian berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) tahun 1932.
Semangat kebangsaan Indonesia telah lama tumbuh di kalangan guru-guru bangsa Indonesia. Organisasi perjuangan huru-guru pribumi pada zaman Belanda berdiri tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).
Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah, dan Penilik Sekolah. Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda mereka umumnya bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua.
Sejalan dengan keadaan itu maka disamping PGHB berkembang pula organisasi guru bercorak keagamaan, kebangsaan, dan yang lainnya.
Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah Kepala HIS yang dulu selalu dijabat orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia. Semangat perjuangan ini makin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kesadaran. Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak “merdeka.”
Pada tahun 1932 nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan ini mengejutkan pemerintah Belanda, karena kata “Indonesia” yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak disenangi oleh Belanda. Sebaliknya, kata “Indonesia” ini sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia. Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas.
Semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24 – 25 November 1945 di Surakarta. Melalaui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan. Mereka adalah – guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di dalam kongres inilah, pada tanggal 25 November 1945 – seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan.
Dengan semangat pekik “merdeka” yang bertalu-talu, di tangan bau mesiu pemboman oleh tentara Inggris atas studio RRI Surakarta, mereka serentak bersatu untuk mengisi kemerdekaan dengan tiga tujuan :
1. Memepertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia;
2. Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan;
3. Membela hak dan nasib buruh umumnya, guru pada khususnya.
Sejak Kongres Guru Indonesia itulah, semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu di dalam wadah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Jiwa pengabdian, tekad perjuangan dan semangat persatuan dan kesatuan PGRI yang dimiliki secara historis terus dipupuk dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia. Dalam rona dan dinamika politik yang sangat dinamis, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tetap setia dalam pengabdiannya sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan, yang bersifat unitaristik, independen, dan tidak berpolitik praktis.
Untuk itulah, sebagai penghormatan kepada guru, pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan hari lahir PGRI tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional, dan diperingati setiap tahun. Semoga PGRI, guru, dan bangsa Indonesia tetap jaya dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah pada makalah ini adalah
1. Bagaimana peran PGRI dalam Memperjuangkan nasib guru ?
2. Bagaimanakah Peran PGRI Dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru ?
1.3. TUJUAN
Adapun tujuan penelitan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut :
a. Mengetahui peran PGRI dalam Memperjuangkan nasib guru
b. Mengetahui Peran PGRI Dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru
1.4. MANFAAT
1. Bagi peneliti, menambah wawasan ilmu pengetahuan khususnya tentang peran PGRI dalam Memperjuangkan nasib guru
2. Bagi orang tua dan guru, sebagai sumbangsih pemikiran dengan menambah informasi tentang peran PGRI dalam Memperjuangkan nasib guru
3. Bagi peneliti lain, sebagai bahan acuan dan bahan perbandingan dalam penelitian yang akan sejenis pada masa akan datang.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. PERANAN PGRI DALAM MEMPERJUANGKAN NASIB GURU
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sebagai organisasi profesi terbesar yang dimiliki oleh guru di Indonesia adalah organisasi yang sangat ideal dan tepat sebagai wadah untuk meningkatkan profesionalisme guru, mengatasi berbagai masalah yang dihadapi para guru serta memperjuangkan nasib guru dan pendidikan pada umumnya. Agar guru dan tenaga kependidikan dapat berperan maksimal dalam menjalankan fungsinya, mereka perlu didukung, dibantu, didorong dan diorganisasikan dalam suatu wadah yang dinamis, prospektif dan mampu menjawab tantangan masa depan. Organisasi yang tepat dan telah mampu melakukan hal itu semua adalah PGRI. Sejarah telah membuktikan bahwa keuletan, kekompakan, kejuangan dan perjuangan PGRI selama ini telah menempatkan PGRI bukan saja menjadi organisasi guru dan tenaga kependidikan yang terbesar di Indonesia, tetapi juga merupakan bagian dari organisasi guru dunia yang tersebar di 158 negara di Dunia yang anggotanya kini lebih dari 25 juta.
Akan tetapi hingga kini masih banyak guru di Indonesia yang belum masuk sebagai anggota PGRI. Teritama dari kalangan guru swasta atau guru dari Departemen Agama. Hal ini terjadi karena perekrutan anggota PGRI bersifat sukarela dan terlepas dari birokrasi pemerintah. Memang tidak ada aturan yang mewajibkan bahwa semua guru baik negeri maupun swasta harus masuk menjadi anggota PGRI. Bahkan banyak di antara mereka yang tidak tahu banyak tentang PGRI dan peranannya bagi mereka. Banyak pula di antara mereka baik yang sudah masuk menjadi anggota PGRI maupun yang belum mencibir PGRI itu sendiri. Sebagian beranggapan masuk menjadi anggota PGRI tidak ada manfaatnya. Malah katanya mereka malah rugi karena gajinya dipotong tiap bulan untuk iuran organisasi. Ada yang mengatakan PGRI adalah hanya organisasi yang bisanya hanya potong gaji saja, tidak membawa manfaat apa-apa bagi mereka. Padahal sadar atau tidak sadar sebenarnya mereka selama ini telah menikmati berbagai peningkatan dan perbaikan nasib guru bahkan kemajuan dunia pendidikan pada umumnya yang merupakan hasil dari kegigihan perjuangan PGRI yang telah dilakukan selama ini. Mereka tidak ikut iuran, tetapi mereka telah ikut menikmati hasil perjuangannya. Bahkan tidak hanya guru saja yang memetik hasil perjuangan PGRI, tetapi PNS yang lain juga ikut menikmati hasil perjuangan PGRI. Sebagai contoh kenaikan Gaji PNS Rp 155.250,00 pada tahun 1999, mengusulkan tunjangan beras diganti dengan uang, memaksimalkan penggunaan ASKES di RS Swasta dan masih banyak lainnya itu adalah hasil perjuangan PGRI.
Beberapa waktu yang lalu kita sama-sama menyaksikan pemandangan menarik di televisi dan media massa lainnya. Ribuan guru dengan seragam PGRI secara bergiliran guru dari Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan dikoordinir pengurus PGRI pusat dan daerah telah melakukan demonstrasi besar-besaran secara nasional dengan menduduki gedung DPR dan Instansi pemerintah yang lain seperti kantor menteri Pendidikan Nasional Pusat untuk menuntut peningkatan anggaran pendidikan sampai 20% dari APBN sesuai amanat UUD 1945, peningkatan kesejahteraan guru, terbitnya PP tentang guru dan tuntutan-tuntutan yang lainnya yang menyangkut nasib guru. Demo-demo tersebut juga ternyata membawa hasil, seperti telah terbitnya Permendiknas No. 18/2007 tentang sertifikasi guru yang sekarang telah ramai dilaksanakan oleh sebagian guru dan sebagian guru yang lulus sertifikasi telah menikmati tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok setiap bulan dengan cara dirapel. Ini semua berkat kegigihan dan perjuangan PGRI. Sebagian tuntutan lainnya juga telah terpenuhi oleh pemerintah.
Wajar mereka berpendapat miring tentang keberadaan PGRI karena mereka tidak tahu apa yang telah dilakukan PGRI. Ketidaktahuan mereka mungkin karena mereka tidak masuk menjadi anggota aktif sehingga tidak tahu banyak hal tentang PGRI dan aktifitasnya, atau menjadi anggota tetapi tidak mau tahu dengan perjuangan PGRI dan segala aktifitasnya.
Guru-guru di lingkungan Departemen Agama misalnya, termasuk di MTs Negeri Jeketro hamper semua guru di lingkungan Depag belum masuk menjadi anggota PGRI. Termasuk Guru –guru di sekolah-sekolah swasta atau guru-guru GTT. Hal ini disebabkan tidak adanya kuajiban atau anjuran resmi dari instansi terkait. Sebenarnya bila kita masuk menjadi anggota PGRI cukup banyak manfaat yang kita dapatkan.:
Pertama, kita sebagai guru sudah sepantasnya tegabung dalam sebuah organisasi profesi yang dapat melindungi hak-hak guru dan ikut berkiprah secara aktif untuk kemajuan guru.
Kedua, dengan bergabung menjadi anggota PGRI kita bias bergaul dengan guru-guru lain dari SD sampai SMA baik dari daerah tingkat kecamatan sampai tingkat nasional.
Ketiga, kita akan mendapatkan bantuan hukum dari Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum (LKBH) bila kita mendapatkan masalah-masalah yang berkaitan dengan hokum baik berkaitan dengan tugasnya maupun kasus pribadi dengan tanpa dipungut biaya.
Keempat, ketika pensiun kita akan mendapatkan dana pensiun dari Yayasan Dana Setia Kawan Pensiun PGRI yang besarnya disesuaikan dengan lamanya menjadi anggota PGRI.
Kelima, kita akan mendapatkan kartu anggota PGRI dan SK Pengurus PGRI yang dapat dipakai sebagai menambah angka kredit guru atau untuk fortofolio sertifikasi guru.
Keenam, dengan menjadi anggota PGRI, kita memiliki banyak kesempatan untuk ikut berbagai kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh PGRI baik di tingkat kecamatan hingga tingkat pusat yang akan menambah wawasan dan pengalaman tersendiri. Jadi alangkah baiknya bila guru-guru MTs N Jeketro ikut bergabung menjadi anggota PGRI dengan membentuk ranting tersendiri di bawah pengurus Cabang Gubug. Pengurus PGRI cabang Gubug tentunya akan dengan senang hati untuk menerima anggota baru tersebut.
Apa yang Telah Dilakukan PGRI ?
Sebetulnya banyak sekali perjuangan PGRI baik pengurus pusat maupun pengurus daerah dalam memperjuangkan nasib guru pada khususnya dan dunia pendidikan pada umumnya. Ada beberapa hasil perjuangan PGRI yang perlu ditunjukan untuk menghindari fitnah dan dapat mengurangi peran serta sebagai anggota PGRI. Secara umum Pengurus PGRI pusat yang lebih aktif melakukan perjuangan dan desakan baik dikalangan eksekutif maupun legislatif untuk mengoalkan apa yang menjadi usulannya. Beberapa perjuangan PGRI yang telah dilakukan selama ini antara lain sebagai berikut :
1. Mengusulkan kenaikan gaji pada tahun 1999 kepada Presiden, dan hasilnya gaji PNS naik Rp 155.250,00.
2. Tahun 2000 PGRI mengusulkan tunjangan pendidikan bagi guru, hasilnya tunjangan fungsional guru naik 150%.
3. Mengusulkan honor guru wiyata bakti, hasilnya guru wiyata bhakti baik di sekolah negeri maupun swasta mendapat tunjangan dari pemerintah sebesar Rp 75.000,00 per bulan.
4. Memperjuangkan bantuan untuk sekolah swata, hasilnya bantuan pendidikan untuk sekolah swata mengalami peningkatan yang signifikan.
5. Mengusulkan agar guru TK mendapat perhatian, hasilnya ada Direktur PAUD, pengangkatan guru TK dan peningkatan kesejahteraan guru TK.
6. Mengusulkan agar tunjangan beras PNS diganti dengan uang agar tidak merugikan PNS. Hasilnya sekarang PNS telah menerima tunjangan beras dalam bentuk uang tunai yang dibayarkan bersamaan dengan penerimaan gaji.
7. Pemaksimalan penggunaan ASKES agar dapat digunakan di RS Swata. Hasilnya sekarang ASKES bida digunakan di RS Swata.
8. Untuk kenaikan golongan IV/a ke atas ditinjau kembali agar tidak diproses sampai ke pusat sehingga memakan waktu lama. Hasilnya kenaikan pangkat IV/a ke atas cukup di tingkat Provinsi, kecuali guru di lingkungan Departemen Agama tetap di pusat.
9. Tunjangan THR dan tambahan kesejahteraan bagi guru. Hasilnya pemerintah kabupaten/kota telah mencairkan tunjangan THR dan dana kesejahteraan bagi seluruh PNS di jajarannya.
10. Rekruitmen PNS khususnya guru, hasilnya dilakukan secara nasional. Mengusulkan agar Guru GTT di sekolah negeri diangkat menjadi PNS. Hasilnya guru kontrak secara otomatis diangkat menjadi PNS meskipun secara bertahap. Bahkan di Depag seluruh data guru yang masuk dalam data Dbase secara bertahap akan diangkat menjadi PNS.
11. Perlindungan dan pembelaan terhadap anggota PGRI yang tersandung masalah hukum oleh LKBH tanpa dipungut biaya.
12. Mengawal dan mendorong lahirnya UU Sisdiknas.
13. Mendesak lahirnya PP tentang Sisdiknas.
14. Mengusulkan agar guru ditangani oleh sebuah badan independen langsung di bawah presiden.
15. Mengusulkan adanya sistem penggajian guru tersendiri pada pemerintah.
16. Mengusulkan kenaikan tunjangan fungsional guru.
17. Mengusulkan sistem pembinaan PNS secara nasional, termasuk pemberian kesejahteraannya.
18. Mengusulkan agar jabatan struktural di bidang pendidikan ditempati oleh pegawai yang menguasai bidang pendidikan, meniti karir, dan berlatar belakang pendidikan.
19. Telah ikut secara aktif yang berada di barisan paling depan jajaran organisasi guru dan bekerja sama dengan organisasi politik yang memiliki otoritas, berusaha menyiapkan dan memperjuangkan UU Guru dan Dosen. Secara kelembagaan perjuangan untuk melahirkan UUG dan D telah dimulai pada saat konggres ke XVIII tahun 1998 di Lembang, Bandung. Sebelumnya baru berupa wacana yang berkembang sejak tahun 1960.
20. Mengawal dan mendesak pemerintah agar segera mengeluarkan PP tentang Guru sesuai dengan amanat UU GD, hiingga terbitlah Permendiknas No. 18/2007 tentang pelaksanaan sertifikasi guru.
21. PGRI selama ini menjadi mitra aktif, strategis, dan kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah tentang pendidikan, terutama yang terkait dengan kebijakan tentang guru.
22. Mengawal agar pelaksanaan sertifikasi guru tidak menciderai kepentingan guru di dalam berkarya dan memperoleh hak-haknya.
23. Mensosialisaikan tentang pelaksanaan sertifikasi guru dari tingkat pusat hingga cabang (tingkat kecamatan).
24. Mengawal pelaksanaan sertifikasi guru secara objektif dan transparan.
25. Menerima sejumlah pengaduan dan melaksanakan kajian terhadap kemungkinan model pelaksanaan sertifikasi guru yang lebih bermutu, efisien dan memenuhi rasa keadilan guru.
26.Melakukan kajian terhadap peningkatan profesi dan kesejahteraan guru.
27. Mengawal penerimaan tunjangan profesi guru.
28. Perjuangan yang paling hangat dan merupakan kemenangan PGRI adalah lahirnya keputusan Mahkamah Konstitusi RI nomor 026/PUU/III/2005 yang menetapkan batas tertinggi dalam APBN tahun 2006 sebesar 9,1% untuk pendidikan tidak memiliki kekuatan hukum tetap dan bertentangan dengan pasal 31 UUD 1945.
29. Menuntut kepada pemerintah untuk memberikan uang lauk pauk kepada semua PNS termasuk guru.
Masih banyak lagi perjuangan PGRI baik yang telah berhasil maupun yang belum yang telah dilakukan PGRI baik tingkat pusat maupun daerah. Akan tetapi harus diakui bahwa perjuangan PGRI belum maksimal. Hal ini disebabkan karena dua faktor, yaitu :
1. Belum kuatnya PGRI sebagai kekuatan penekan.
2. Kurangnya political will dari pemerintah dan birokrasi pendidikan.
Kegigihan PGRI dalam memperjuangkan hak-hak guru baik negeri maupun swasta berdasarkan UUD 1945 beserta segenap peraturan pelaksanaannya belumlah surut. Sekalian ancaman, gangguan, hambatan dan tantangannya terus menerpa PGRI. Cakupan perjuangan itu antara lain : realisasi anggaran 20% dari APBN maupun APBD untuk pendidikan sesuai amanat UUD 1945, jaminan pengembangan karier dan keprofesionalan guru, tunjangan fungsional, tunjangan profesi, tunjangan pendidikan, tunjangan khusus, kemaslahatan lain, tunjangan kelebihan jam mengajar bagi guru SD, insentif dan peningkatan kesejahteraan bagi guru swasta dan tenaga honorer. Status karier dan kesejahteraan guru GTT, guru wiyata bhakti, guru honorer juga terus diperjuangkan melalui berbagai pendekatan dan cara. Evaluasi sementara, perjuangan PGRI tersebut ada yang berhasil, tetapi masih banyak juga yang harus tetap diperjuangkan. Ketidakberhasilan perjuangan itu menurut analisis sementara penyebabnya adalah karena kader PGRI belum menempati posisi kunci dalam mengambil kebijakan dalam sistem pemerintahan. PGRI mengamati masih banyak pejabat pemerintah belum banyak memahami kebutuhan profesional riil para guru. Para pejabat mempersepsikan pekerjaan guru sama saja dengan jenis pekerjaan administrasi perkantoran lainnya, sehingga tidak perlu perhatian khusus. Padahal guru memiliki peranan strategis untuk memajukan dan mencerdaskan bangsa ini.

2.2. PERAN PGRI DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU
2.2.1. Bangkitkan Profesionalisme Anggota
Alam konstelasi politik kadang sulit diprediksi arah dan kehadirannya, serta merta telah memasuki berbagai sektor kehidupan manusia, mulai dari persoalan-persoalan yang rumit dan pelik tingkatannya tidak dapat dihindarkan. Organisasi tidak dapat menghindar dari keadaan ini.
Realitas inilah yang menantang bagi setiap organisasi untuk lebih merasa bertanggung jawab pada semua anggotanya. Kondisi ini membawa perubahan yang sangat besar terutama pada proteksi profesi, seseorang yang menyatakan sebagai profesional pendidik (guru) misalnya, tidak dapat lagi sembunyi dibalik kekuatan organisasi untuk menjamin eksistensinya.
Kendatipun organisasi tidak kehilangan inner power (kekuatan sejatinya) untuk melindungi anggota-anggotanya yang lemah profesi. Organisasi saat ini secara tidak langsung telah berubah pada perikatan yang profesional, artinya tidak hanya mengemban misi dalam upaya-upaya perlindungan individu, karena era ini menuntut lebih banyak persaingan yang sifatnya individual (Competition on individual base).
Organisasi profesi yang secara dini tidak membekali para anggotanya dengan piranti persaingan, dan tidak hanya menanti belas kasihan organisasi, secara dini pula dirinya akan terlindas oleh kemajuan jaman, suatu kenyataan telah berada dipelupuk mata kita, bahwa hadirnya profesional pendidik asing (guru-guru dari luar negeri), tak satupun organisasi mampu menolaknya. Karena negara telah mengikat dirinya dalam berbagai bentuk perjanjian, misalnya, WTO, APEC dan AFTA yang kita sepakati dan mengharuskan kita sepakat untuk mendunia. Menghadapi kenyataan ini maka sebuah organisasi, harus melangkahkan kesadarannya pada misi baru, yakni menjadi katalisator untuk meningkatkan kekuatan profesional para anggotanya. Sebagai langkah awal adalah mencegah sekaligus mengeliminasi idola-idola sesat.
Meminjam buah fikir “Francis Bacon” sebagai peletak dasar-dasar empirisme menganjurkan organisasi untuk membebaskan manusia dari pandanngan atau keyakinan yang menyesatkan, dia menyebutkan ada empat idola, yaitu:
1. The idols of cave, yakni sikap mengungkung diri sendiri seperti katak dalam tempurung, sehingga enggan membuka diri terhadap pendapat dan pikiran orang lain.
2. The idols of market place, yaitu sikap mendewa-dewakan slogan cenderung suka “ngecap” (lip service).
3. The idols of theatre yaitu sikap membebek, kurang fleksibel, berdisiplin mati dan “ABIS”- Asal Bapak Ibu Senang”.
4. The idols of tribe, yaitu cara berfikir yang sempit sehingga hanya membenarkan pikirnanya sendiri (solipsistic) dan hanya membenarkan kelompoknya/organisasinya sendiri.
Jika organisasi telah mampu membebaskan para anggotanya dari idola-idola tersebut, maka secara tidak langsung organisasi telah meraup kembali inner power yang selama ini hilang sebagai akibat kemajuan zaman yang penuh ketidakpastian.
Dikaitkan dengan profesionalisme guru, maka wadah organisasi seperti PGRI (Persatuan Guru RI) tertantang untuk memanifestasikan kemampuannya, karena secara makro organisisasi PGRI dihadapkan pada “barier protection) sebagi akibat globalisasi. Sadar dari realita ini PGRI akan tetap melakukan upaya cerdas dalam bentuk peningkatan kemampuan individual (peningkatan kompetensi). Sehingga kesan yang berkembang dan yang memandang PGRI hanya mempertahankan organisasi sebagai alat pelindung dengan bermodalkan kekuatan massa (pressure group), tidak selamanya benar.
2.2.2. Mengukuhkan Keahlian
Di era ketidakpastian, tuntutan keahlian digambarkan sebagai kemampuan personal yang memiliki daya ganda, yakni disamping memiliki keungulan kompetitif (competitif advantage), sisi lain juga mempunyai keunggulan komparatif (comparative adventage). Keunggulan kompetitif ini menuntut professional untuk menguasai kempetensi inti (core competence). Dalam dunia pendidikan yang disyaratakan sebagai kompetensi inti adalah segenap kemampuan yang meliputi:
1. Keunggulan dalam penguasaan materi ajaran (subject mater)
2. Keunggulan dalam penguasaan metodologi pengajaran (teaching methode)
Dalam undang-undang Guru dan Dosen kompetensi meliput; kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi pribadi dan kompetensi sosial. Dari syarat kompetensi ini, merupakan bentuk tuntutan yang sifatnya dinamik, karena penguasaan materi ajaran, serta penguasaan metodologi pengajarann selalu berkembang sesuai dengan perkembangan jaman.
Dalam penguasaan materi ajaran misalnya, untuk satu hari saja dunia telah mencatat lebih dari kurang satu juta judul buku terbit.
Sisi lain yang juga menjadi tantangan adalah rekayasa bidang teknologi komputer dengan rekayasa tersebut maka tercipta beberapa perangkat lunak (soft ware) pendidikan yang memiliki kemampuan luar biasa dan sangat reasonable terhadap berbagai keadaan dan fungsi. Realitas ini merupakan kendala yang harus dapat diantisipasi oleh organisasi.
2.2.3. Menguatkan Tanggung Jawab
Tanggung jawab profesi juga terkena imbas kemajuan jaman, teristimewa untuk profesi pendidik, karena disamping tuntutan bidang akademik dengan perannya sebagai alih pengetahuan (transfer of knowledge) secara bersamaan guru membawa beban moral, sebagai pendidik moral.
Kemajuan teknologi ternyata tidak pernah steril dari budaya baru, teknologi selalu mempercepat dan membawa dampak pengiring, yang kadangkala bernuansa negatif.
Tanpa disadari langit-langit bumi telah berubah menjadi atmosfir elektronik, yang dengan bebas dan tanpa merasa berdosa mengalirkan informasi ke segala penjuru dunia, dan tidak memandang perbedaan budaya, etika serta etistika.
Suatu gambaran yang serba naïf, dapat diakses oleh sebagian besar penduduk Indonesia, karena parabola (indovision) telah mampu menjembatani penyiaran TV-TV asing, dengan tidak terasa terjadi penetrasi budaya. Secara bersamaan guru telah mendapatkan beban tambahan untuk memberikan perawatan budaya, agar moral bangsa tetap berada dalam bingkai budaya.
Keadaan ini menjadi serba-serbi dilematik, sisi lain guru harus ahli dalam penguasaan subject mater, namun beberapa waktunya hilang dibagi untuk mengurusi bidang-bidang yang terkait dengan moral. Sebagai tantangan tanggung jawab profesi yang terkait dengan persoalan moral profesi adalah semakin lemahnya kepercayaan terhadap guru, karena nilai-nilai yang berkembang saat ini dengan cepat memberikan perubahan, namun berbagai persoalan individu utamanya kesejahteraan seorang guru masih belum dapat dikatakan menggembirakan. Kenyataan menunjukan kepada kita, sering pula dalam memenuhi kebutuhan hidupnya menekuni pekerjaan-pekerjaan lain yang akhirnya merugikan nilai-nilai profesional.
Ilustrasi yang sangat ringan dapat kita lihat, bahwa kemajuan ekonomi juga mengkondisikan guru lebih senang bahkan lebih tekun mengerjakan fungsi-fungsi lain yang lebih menjanjikan dari pada mempertajam visi profesinya. Melihat realita ini, maka organisasi harus melakukan tindakan cerdas, dengan berupaya terus menerus melakukan siasat.
2.2.4. Jejaring Sebagai Kekuatan Organisasi PGRI:
Dalam memperjuangkan nasib para anggotanya untuk mengemban amanat UUD 1945, “mencerdaskan bangsa” PGRI selalu mengundang dan bekerja sama dengan organisasi lainnya, selama dalam bingkai tegaknya NKRI. Mendukung upaya pencerdasan bangsa tanpa memandang asal usul golongan, karena independensi menjadi suratan perjuangannya.
PGRI selalu berjuang untuk mengayomi para anggotanya, tanpa membuat cidera demi kepentingan bangsa. Oleh karenanya PGRI menyadari sepenuhnya membangun jejaring (net working) dalam kerangka peningkatan martabat Bangsa Indonesia khususnya wilayah Kabupaten Mimika selalu dikedepankan.
BAB III
PENUTUP
Semangat kebangsaan Indonesia telah lama tumbuh di kalangan guru-guru bangsa Indonesia. Organisasi perjuangan huru-guru pribumi pada zaman Belanda berdiri tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).
Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah, dan Penilik Sekolah. Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda mereka umumnya bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua. Sejalan dengan keadaan itu maka disamping PGHB berkembang pula organisasi guru bercorak keagamaan, kebangsaan, dan yang lainnya.
Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah Kepala HIS yang dulu selalu dijabat orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia.
Semangat perjuangan ini makin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kesadaran. Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak “merdeka.”
PGRI harus lebih berkiprah, khususnya membantu guru melakukan penelitian ilmiah sehingga mereka tidak mentok di golongan IVA. PGRI juga diharapkan mampu menjembatani keinginan para guru dengan pemerintah, baik pusat maupun daerah agar mampu menterjemahkan hak-hak guru yang harus dibayarkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Akhirnya, PGRI harus menjadi corong para guru dalam menyampaikan suaranya kepada pemerintah dan memberikan masukan positif kepada pemerintah tentang langkah-langkah efektif yang sebaiknya dilakukan. Jangan biarkan PGRI menjadi seperti pepatah, hidup segan mati tak mau.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
BAB I : Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Tujuan
1.4. Manfaat
BAB II : Pembahasan
2.1. Peranan PGRI Dalam Memperjuangkan Nasib Guru
2.2. Peran Pgri Dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru
2.2.1. Bangkitkan Profesionalisme Anggota
2.2.2. Mengukuhkan Keahlian
2.2.3. Menguatkan Tanggung Jawab
2.2.4. Jejaring Sebagai Kekuatan Organisasi PGRI:
BAB III : Penutup
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan Rahmat serta Hidayah-Nya sehingga kita dapat menyelesaikan Makalah Tentang peran PGRI dalam Memperjuangkan nasib guru dan Meningkatkan Profesionalisme Guru ini dengan baik. Sholawat serta salam tak lupa kami haturkan pada junjungan kami, Nabi besar Muhammad SAW.
Tak lupa pula kami ucapkan banyak terima kasih kepada kedua orang tua kami yang telah memberikan restu dan dorongan / support pada kami dalam menyelesaikan kliping ini. Dan juga kami ucapkan terima kasih yang tak terhingga pada rekan – rekan dan orang – orang terdekat kami, yang telah banyak membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Harapan kami semoga makalah ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca. Sehingga dengan Makalah Tentang peran PGRI dalam Memperjuangkan nasib guru dan Meningkatkan Profesionalisme Guru ini kita bisa memberikan sedikit ilmu dan pengetahuan pada para pembaca.
Kami juga mohon maaf apabila ada kesalahan yang kami sengaja maupun tidak kami sengaja, karena manusia tidak pernah lepas dari kesalahan. Kritik dan saran membangun dari anda selalu kami tunggu, agar kedepannya kami bisa lebih baik dalam penyusunan makalah.
Terima kasih.
Situbondo, November 2009
Penyusun

S(IV). KONSEP PEMBELAJARAN KOGNITIF, AFEKTIF DAN PSIKOMOTORIK

                                                      A. Pendahuluan

Disadari atau tidak, proses pendidikan di sekolah sekarang porsinya masih lebih pada aspek kognitif atau transfer of knowledge saja. Salah satu hal yang kadang dihadapi guru dalam pembelajaran adalah kurangnya minat dan motivasi peserta didik untuk belajar di kelas. Kadangkala peserta didik mempraktikkan “ 5 D “ yaitu Datang, Duduk, Dengar, Diam, dan bahkan mungkin Dengkur. 
Peserta didik kadangkala merasa “terpaksa” datang dan menghabiskan waktunya di kelas. Apalagi guru masih terbiasa untuk menjadikan peserta didiknya pendengar yang baik karena guru masih yakin bahwa satu-satunya cara untuk mengajar dengan cepat adalah dengan menggunakan metode ceramah. Padahal jika dilihat secara umum, proses pendidikan menuju pada tiga hal pokok yang harus mampu dicapai peserta didik, yaitu Afektif, Kognitif dan Psikomotorik. Afektif berkaitan dengan sikap, moral, etika, akhlak, dan manajemen emosi. Kognitif berkaitan dengan aspek pemikiran, transfer ilmu, logika, dan analisis. Sedangkan Psikomotorik berkaitan dengan praktik atau aplikasi apa yang sudah diperolehnya melalui jalur kognitif.

B. Pembahasan
1. Hakekat pembelajaran
Dalam pembelajaran ada dua kegiatan yang terjadi yaitu belajar dan mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dan objek dari kegiatan pengajaran. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran akan tercapai jika anak didik beusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan anak didik disini tidak hanya dituntut dari segi fisik saja,tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik saja yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai.ini sama halnya anak didik tidak belajar, karena anak didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya. Padahal belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktifitas belajar, walaupun pada kenyataannya tidak semua perubahan tidak termasuk kategori belajar. 
Kegiatan mengajar bagi seorang guru menghendaki hadirnya anak didik, berbeda dengan belajar. Belajar tidak selamanya memerlukan kehadiran seorang guru. Cukup banyak aktifitas yang dilakuakn oleh seseorang diluar dari keterlibatan guru. Belajar dirumah cenderung menyendiri dan terlalu banyak mengharapkan bantuan dari orang lain. Apalagi aktivitas belajar itu berkenaan dengan kegiatan membaca sebuah buku tertentu.Mengajar pasti merupakan kegiatan yang mutlak memerlukan keterlibatan individu anak didik. Bila tidak ada anak didik atau objek didik, siapa yang mengajar. Hal ini perlu sekali guru sadari agar tidak terjadi kesalahan tafsir terhadap kegiatan pengajaran. Karena itu, belajar dan mengajar merupakan istilah yang sudah baku dan menyatu di dalam konsep pengajaran.
Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar adalah dwi tunggal dalam perpisahan raga jiwa bersatu antara guru dan anak didik. Biasanya permasalahan yang guru hadapi ketika berhadapan dengan sejumlah anak didik adalah masalah pengelolaan kelas. Apa, siapa, bagaimana, kapan, dan dimana adalah serentetan pertanyaan yang perlu dijawab dalam hubungannya dengan masalah pengelolaan kelas. Peranan guru itu paling tidak berusaha mengatur suasana kelas yang kondusif bagi kegairahan dan kesenagan belajar anak didik. Sama halnya dengan belajar, mengajarpun pada hakekatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi. Lingkungan yang ada disekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar.Peranan guru sebagi pembimbing bertolak dari cukup banyaknya anak didik yang bermasalah. Dalam belajar ada anak didik yang cepat mencerna bahan, ada anak didik yang sedang mencerna bahan dan ada pula anak didik yang lamban mencerna bahan yang diberikan oleh guru. Ketiga tipe belajar anak didik ini menghendaki agar guru mengatur strategi pengajarannya yang sesuai dengan gaya-gaya belajar anak didik.Akhirnya, bila hakikat belajar adalah “perubahan”, maka hakekat belajar mengajar adalah proses “pengaturan” yang dilakukan oleh guru.2. Tiga aspek yang harus diperhatika dalam pengajarana. Aspek kognitifAspek kognitif dalam pendidikan merupakan aspek yang berkaitan dengan pengetahuan. Artinya kegiatn belajar mengajar beretujuan menambah tingkat pengetahuan dan wawasan siswa terhadap materi pelajaran yang disampaikan. Aspek kognitif dapat ditelusuri darisuatu keadaan dimana siswa mendapatkan penambahan pengetahuan dari yang semula tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Pada dasarnya konsep pembelajaran kognitif disini menuntut adanya prinsip-prinsip utama sebagai berikut.Pembelajaran yang aktif, maksudnya adalah siswa sebagai subyek belajar menjadi factor yang paling utama. Siswa dituntut untuk belajar dengan mandiri secara aktif.2. Prinsip pembelajaran dengan interaksi social untuk menambah khasanah perkembangan kognitif siswa dan menghindari kognitif yang bersifat egosentris.3. Belajar dengan menerapkan apa yang dipelajari agar siswa mempunyai pengalaman dalam mengeksplorasi kognitifnya lebih dalam. Tidak melulu menggunakan bahasa verbal dalam berkomunikasi.4. Adanya guru yang memberikan arahan agar siswa tidak melakukan banyak kesalahan dalam menggunakan kesempatannya untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang positif.5. Dalam memberikan materi kepada siswa diperlukan penstrukturan baik dalam materi yang disampaikan maupun metode yang digunakan. Karena pengaturan juga sangat berpengaruh pada tingkat kemampuan pemahaman pada siswa.6. Pemberian reinforcement yang berupa hadiah dan hukuman pada siswa. Saat melakukan hal yang tepat harus diberikan hadiah untuk menguatkan dia untuk terus berbuat dengan tepat, hadiah tersebut bias berupa pujian, dan sebagainya. Dan sebaliknya memberikan hukuman atas kesalahan yang telah dilakukan agar dia menyadari dan tidak mengulangi lagi, hukuman tersebut bias berupa: teguran, nasehat dan sebagainya tetapi bukan dalam hukuman yang berarti kekerasan.7. Materi yang diberikan akan sangat bermakna jika saling berkaitan karena dengan begitu seseorang akan lebih terlatih untuk mengeksplorasi kemampuan kognitifnya.8. Pembelajaran dilakukan dari pengenalan umum ke khusus (Ausable) dan sebaliknya dari khusus ke umum atau dari konkrit ke abstrak (Piaget).9. Pembelajaran tidak akan berhenti sampai ditemukan unsure-unsur baru lagi untuk dipelajari, yang diartikan pembelajaran dengan orientasi ketuntasan.10. Adanya kesamaan konsep atau istilah dalam suatu konsep bias sangat mengganggu dalam pembelajaran karena itulah penyesuaian integrative dibutuhkan. Penyesuaian ini diterapkan dengan menyusun materi sedemikian rupa, sehingga guru dapat menggunakan hierarki-hierarki konseptual ke atas dan ke bawah selama informasi disajikan.b. Aspek afektifAspek afektif dalam pendidikan merupakan aspek yang berkaitan dengan perasaan, ini berarti terhadap matiri pelajaran yang disampaikan siswa meresponnya dengan berbagai ekspresi yang mewakili perasaan mereka. Suatu pelajaran tertentu misalnya akan memancing terbentuknya rasa senang, sedih atau berbagai ekspresi perasaan yang lainnya.Secara konseptual maupun emprik, diyakini bahwa aspek afektif memegang peranan yang sangat penting terhadap tingkat kesuksesan seseorang dalam bekerja maupun kehidupan secara keseluruhan. Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotorikdipengaruhi oleh kondisi afektif siswa. Siswa yang memiliki minat belajar dan sikap positifterhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tertentu sehingga dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Walaupun para guru sadar akan hal ini,namun belum banyak tindakan yang dilakukan guru secara sistematik untuk meningkatkan minat siswa. Pembelajaran afektif berbeda dengan pembelajaran intelektual dan keterampilan, karena segi afektif sangat bersifat subjektif, lebih mudah berubah, dan tidak ada materi khusus yang harus dipelajari. Hal-hal diatas menuntut penggunaan metode mengajar dan evaluasi hasil belajar yang berbeda dari mengajar segi kognitif dan keterampilan.Ada beberapa model pembelajaran afektif yang populer dan banyak digunakan.1. Model KonsiderasiManusia seringkali bersifat egoistis, lebih memperhatikan, mementingkan, dan sibuk dan sibuk mengurusi dirinya sendiri. Melalui penggunaan model konsiderasi (consideration model) siswa didorong untuk lebih peduli, lebih memperhatikan orang lain, sehingga mereka dapat bergaul, bekerja sama, dan hidup secara harmonis dengan orang lain.Langkah-langkah pembelajaran konsiderasi: (1) menghadapkan siswa pada situasi yang mengandung konsiderasi, (2) meminta siswa menganalisis situasi untuk menemukan isyarat-isyarat yang tersembunyi berkenaan dengan perasaan, kebutuhan dan kepentingan orang lain, (3) siswa menuliskan responsnya masing-masing, (4) siswa menganalisis respons siswa lain, (5) mengajak siswa melihat konsekuesi dari tiap tindakannya, (6) meminta siswa untuk menentukan pilihannya sendiri.2. Model pembentukan rasional Dalam kehidupannya, orang berpegang pada nilai-nilai sebagai standar bagi segala aktivitasnya. Nilai-nilai ini ada yang tersembunyi, dan ada pula yang dapat dinyatakan secara eksplisit. Nilai juga bersifat multidimensional, ada yang relatif dan ada yang absolut. Model pembentukan rasional (rational building model) bertujuan mengembangkan kematangan pemikiran tentang nilai-nilai.Langkah-langkah pembelajaran rasional: (1) menigidentifikasi situasi dimana ada ketidakserasian atu penyimpangan tindakan, (2) menghimpun informasi tambahan, (3) menganalisis situasi dengan berpegang pada norma, prinsip atu ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam masyarakat, (4) mencari alternatif tindakan dengan memikirkan akibat-akibatnya, (5) mengambil keputusan dengan berpegang pada prinsip atau ketentuen-ketentuan legal dalam masyarakat.3. Klarifikasi nilai Setiap orang memiliki sejumlah nilai, baik yang jelas atau terselubung, disadari atau tidak. Klarifikasi nilai (value clarification model) merupakan pendekatan mengajar dengan menggunakan pertanyaan atau proses menilai (valuing process) dan membantu siswa menguasai keterampilan menilai dalam bidang kehidupan yang kaya nilai. Penggunaan model ini bertujuan, agar para siwa menyadari nilai-nilai yang mereka miliki, memunculkan dan merefleksikannya, sehingga para siswa memiliki keterampilan proses menilai.Langkah-langkah pembelajaran klasifikasi nilai: (1) pemilihan: para siswa mengadakan pemilihan tindakan secara bebas, dari sejumlah alternatif tindakan mempertimbangkan kebaikan dan akibat-akibatnya, (2) mengharagai pemilihan: siswa menghargai pilihannya serta memperkuat-mempertegas pilihannya, (3) berbuat: siswa melakukan perbuatan yang berkaitan dengan pilihannya, mengulanginya pada hal lainnya.4. Pengembangan moral kognitifPerkembangan moral manusia berlangsung melalui restrukturalisasi atau reorganisasi kognitif, yang yang berlangsung secara berangsur melalui tahap pra-konvensi, konvensi dan pasca konvensi. Model ini bertujuan membantu siswa mengembangkan kemampauan mempertimbangkan nilai moral secara kognitif.Langkah-langkah pembelajaran moral kognitif: (1) menghadapkan siswa pada suatu situasi yang mengandung dilema moral atau pertentangan nilai, (2) siswa diminta memilih salah satu tindakan yang mengandung nilai moral tertentu, (3) siswa diminta mendiskusikan/ menganalisis kebaikan dan kejelekannya, (4) siswa didorong untuk mencari tindakan-tindakan yang lebih baik, (5) siswa menerapkan tindakan dalam segi lain.5. Model nondirektifPara siswa memiliki potensi dan kemampuan untuk berkembang sendiri. Perkembangan pribadi yang utuh berlangsung dalam suasana permisif dan kondusif. Guru hendaknya menghargai potensi dan kemampuan siswa dan berperan sebagai fasilitator/konselor dalam pengembangan kepribadian siswa. Penggunaan model ini bertujuan membantu siswa mengaktualisasikan dirinya.Langkah-langkah pembelajaran nondirekif: (1) menciptakan sesuatu yang permisif melalui ekspresi bebas, (2) pengungkapan siswa mengemukakan perasaan, pemikiran dan masalah-masalah yang dihadapinya,guru menerima dan memberikan klarifikasi, (3) pengembangan pemahaman (insight), siswa mendiskusikan masalah, guru memberrikan dorongan, (4) perencanaan dan penentuan keputusan, siswa merencanakan dan menentukan keputusan, guru memberikan klarifikasi, (5) integrasi, siswa memperoleh pemahaman lebih luas dan mengembangkan kegiatan-kegiatan positif.c. Aspek psikomotoriokAspek psikomotorik dalam pendidikan merupakan aspek yang berhubungan dengan tindakan atau perilaku yang ditampilkan anak didik setelah menerima suatu materi tertentu, artinya mereka bertindak atau berprilaku berdasarkan pengetahuan dan perasaan sesuai atauberdasarkan pengembangan sendiri dari yang disampaikan pendidik. C. KesimpulanDari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Secara umum, proses pendidikan menuju pada tiga hal pokok yang harus mampu dicapai peserta didik, yaitu Afektif, Kognitif dan Psikomotorik. Ketiga hal ini tidak boleh di pisahkan karena merupakan satu kesatuan. Pembelajaran sebagai salah satu aspek penting dalam pendidikan memegang peranan mengembangkan dan memberdayakan domain kognitif, afektif, dan psikomotor bagi peserta didik secara seimbang. Keseimbangan pengembangan dan pemberdayaan ketiga domain tersebut harus tertuang dengan jelas dalam proses pembelajaran, meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran,D. Daftar PustakaDjamarah,saiful bahri,Drs. Drs.aswan zain, strategi belajar mengajar, Jakarta: PT rineka cipta,2006http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/05/08/model-pembelajaran-afektif-sikap/http://www.lampung post.com/cetak/cetak.php?id=200403200706554http://www.psb-psma.org/content/blog/prestasi-siswadi-sekolahmadrasah-tidak-hanya-nilai-kognitif

Keterampilan Mengajar Dan Mengelola Kelas

Sudah menjadi tugas seorang guru untuk memperhatikan dan menciptakan faktor-faktor yang dapat mendukung berhasilnya kegiatan pembelajaran. Dengan memunculkan/menciptakan faktor yang dapat mendukung proses pembelajaran tersebut, diharapkan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan akan berjalan secara efektif.
Suasana belajar yang optimal dan kondusif adalah salah satu faktor yang dapat mendukung keberhasilan kegiatan pembelajaran. Faktor ini berkaitan erat dengan pengaturan orang dan barang. Guru harus memiliki kemampuan untuk mengatur orang dan barang agar tercipta suasana belajar yang kondusif. Kemampuan mengatur ini selalu digunakan sebagai acuan dalam keterampilan mengelola kelas (classroom management).
Menurut Weber (1977) pengelolaan kelas (classroom management) diklasifikasikan kedalam tiga pengertian, yaitu:
Berdasarkan pendekatan otoriter (autority approach): pengelolaan kelas adalah kegiatan guru untuk mengontrol tingkah laku siswa, guru berperan menciptakan dan memelihara aturan kelas melalui penerapan disiplin secara ketat
Berdasarkan pendekatan permisif (permissive approach): pengelolaan kelas adalah upaya yang dilakukan guru untuk membebaskan siswa dalam melakukan berbagai aktifitas sesuai dengan keinginan mereka. Dalam situasi ini fungsi guru adalah bagaimana menciptakan kondisi siswa merasa aman untuk melakukan aktifitas di dalam kelas.
Berdasarkan pendekatan modifikasi tingkah laku: pengelolaan kelas merupakan proses perubahan tingkah laku dalam rangka mengembangkan dan memfasilitasi perubahan perilaku positif siswa dan berusaha mencegah munculnya atau memperbaiki perilaku negatif yang dilakukan oleh siswa.
Menanggapi pendapat yang dikemukakan Weber di atas, Julaiha dan Wardani (2007) mengemukakan bahwa pendekatan otoriter dan pendekatan permisif dianggap pengelolaan kelas yang tidak efektif karena tidak dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab. Sedangkan pendekatan modifikasi tingkah laku mempunyai keefektifan sendiri walaupun terdapat kelemahannya.
Selanjutnya Julaiha dan Wardani (2007:8.36) menyimpulkan bahwa pengelolaan kelas (classroom management) adalah keterampilan menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, serta keterampilan guru untuk mengembalikan kondisi belajar yang terganggu ke arah kondisi belajar yang optimal. Defenisi ini sesuai dengan Depdikbud (1985g:3) dimana keterampilan mengelola kelas diartikan sebagai keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, dan keterampilan untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal, apabila terdapat gangguan dalam proses belajar baik yang bersifat gangguan kecil dan sementara maupun gangguan yang berkelanjutan.  Kedua defenisi ini menekankan kemampuan guru dalam mencegah terjadinya gangguan sehingga kondisi belajar yang optimal dapat tercipta dan terpelihara, serta menangani gangguan yang muncul sehingga kondisi belajar yang terganggu dapat dikembalikan ke kondisi optimal.
Semua kegiatan yang dilakukan tentu saja mempunyai tujuan tertentu. Demikian juga dengan keterampilan mengelola kelas. Tujuan keterampilan mengelola kelas adalah:1. Bagi Siswa:
Mengembangkan tanggung jawab siswa secara individu.
Menyadarkan siswa terhadap tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib.
Menumbuhkan rasa percaya diri dalam mengikuti proses pembelajaran.
Merasa nyaman mengikuti proses pembelajaran.
Agar siswa aktif melibatkan diri dalam tugas.
2. Bagi guru:
Merasa nyaman dalam menyampaikan materi pelajaran.
Memiliki kesadaran terhadap kebutuhan siswa.
Memberi respon secara efektif dan positif terhadap tingkah laku siswa yang menimbulkan gangguan-gangguan kecil pada saat proses pembelajaran.
Memahami dan menguasai seperangkat kemungkinan strategi perbaikan berkaitan dengan masalah tingkah laku siswa yang mengarah pada tindakan negatif.
Membantu memudahkan dalam mencapai kompetensi yang harus dikuasai siswa.
Itulah defenisi dan tujuan dari keterampilan mengelola kelas yang dilakukan oleh guru. Mengingat pentingnya peranan guru dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif dan optimal agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif yang pada akhirnya dapat mempermudah siswa dalam menguasai kompetensi yang diharapkan, maka guru harus menguasai dan menerapkan keterampilan mengelola kelas pada setiap proses pembelajaran yang dilakukan. Semoga ada manfaatnya!

DRAMA Sebelum Sembahyang

Oleh Kecuk Ismadi C. R.
Lokasi di sebuah gang yang sepi dekat sebuah masjid pada sebuah desa. Terdengar kentongan dan bedug dipukul orang, lalu disusul suara adzan.
Copet III : “Itu suara apa?”
Copet II : “Suara orang adzan.”
Copet I : “Apa? Suara orang edan?”
Copet II : “Adzan, Goblok!”
Copet I : “Apa?” (Meniling-nilingkan kepala)
Copet II : “Adzan, tuli?”
Copet I : “Oh, orang adzan. Adzan itu apa toh?”
Copet III : “Adzan itu panggilan untuk menjalankan sembahyang. Iya
kan? Benar kan?”
Copet II : “Ho-oh!”
Copet I : “Adzan! Adzan! Wah baru kali ini aku dengar istilah itu.
Kok, hampir sama, ya? Adzan! Edan!”
Copet IV : “Husss, Dosaaaa! Dosa lho,kamu.”
Copet I : “Lho, kok dosa? Ini kan fakta? Kata adzan aku memang
jarang mendengar. Lha, kalau kata edan mah itu sering
aku dengar. Waktu aku masih di asrama.”
Copet III : “Wah, gaya! Jadi kamu pernah tinggal di asrama?”
Copet I : “Jelas, dong! Dilihat tampangku kan kelihatan.”
Copet IV : “Mana, sih asramamu?”
Copet I : “Wah asrama saya sangat ngetop!”
Copet II : “Lha iya, mana? Di mana itu?”
Copet I : “Di…mana, ya? Kalau tidak salah di Pakem.”
Copet II, III, IV : “Oooooo, Pakem?! Pantas, pantas.” (Tertawa)
Copet I : “Kenapa kalian saling tertawa, ha? Kenapa? Ha? Kenapa?
Copet III : “Jebolannya pensiunan wong edan! Hahahaha bekas orang gila. (Saling tertawa) Jebolan rumah sakit jiwa.”
Copet I : “Siapa yang pensiunan wong edan?”
Copet IV : “Lha, ya kamu itu! Lah kalau bukan kamu siapa? Saya? Ah
nggak pantas dong. Saya kan cocoknya jadi presiden.”
Copet II : “Saya cocoknya jadi perdana menteri luar negeri.”
Copet III : “Kalau saya cocoknya jadi dramawan besar. Seperti
Shakespeare, Anton Chekov, Stainslavky, atau paling
tidak Rendra.”
Copet I : (Tersenyum-senyum) “Kalau saya… kalau saya… cocoknya
jadi …, jadi …”
Copet II : “Ya, jadi wong edan!” (Semuanya tergelak-gelak)
……………………..
Sumber : Kumpulan Drama Remaja, 1991 : 61-62
ANALISIS
Unsur Intrinsik :
1. Tema :
Perbincangan sesama copet
2. Amanat :
Dari drama diatas dapat disimpulkan bahwa amanat yang dapat kita ambil yaitu Introspeksi diri dulu lah sebelum menilai sesuatu hal.
3. Alur / Plot :
Cerita drama ini beralur tunggal, sederhana dan mudah diikuti. Cerita pada drama ini diawali di sebuah gang kecil dekat masjid di suatu desa berkumpulah sekelompok copet yang sedang bersenggama antar satu dengan yang lain. Di lain sisi, di sebuah masjid terdengar kumandang adzan, salah satu pencopet itu mencela bercanda mengenai adzan tersebut, lalu terjadilah perdebatan kecil tentang apa itu adzan dan bersunda guaru.
4. Latar / setting :
Tempat : Sebuah gang kecil dekat sebuah masjid pada sebuah desa
Waktu : Sebelum adzan
Lokasi di sebuah gang yang sepi dekat sebuah masjid pada sebuah desa. Terdengar kentongan dan bedug dipukul orang, lalu disusul suara adzan.
5. Tokoh dan Penokohan
Copet I : Nakal, ngelantur, dan sok tahu
Copet I : “Apa? Suara orang edan?”
Copet II : Tidak sabar, mudah terbawa emosi
Copet II : “Adzan, Goblok!”
Copet III : Pemimpi
Copet III : “Kalau saya cocoknya jadi dramawan besar. Seperti Shakespeare, Anton Chekov, Stainslavky, atau paling tidak Rendra.”
Copet IV : Baik, Pemimpi
Copet IV : “Husss, Dosaaaa! Dosa lho,kamu.”

b.    Pengertian drama
Ditinju dari asal katanya, kata drama berasal dari bahasa Yunani Kuno; draomai yang artinya berbuat, bertindak atau beraksi. Tetapi ketika pada masa Aehylus (525-456 seb.M) arti drama mendapat penambahan menjadi kejadian, risalah atau karangan.
Untuk memperjelas arti dari pengertian di atas, marilah kita tinjau arti drama dalam tiga pengertian:
Arti pertama. Drama adalah kwalitet komunikasi, situasi, action (segala apa yang terlihat di atas pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan, (exiting) dan ketegangan pada pendengaran atau penonton)
Arti kedua. Didasarkan pada beberapa pendapat tentang drama menurut:
1.    Moluton, drama adalah: hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action).
2.    Brander Mathews, drama adalah konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama.
3.    Ferdinand Brutierre, drama adalah harus melahirkan kehendak manusia dengan action
4.    Balthazar Verhagen, drama adalah kesenian yang melukiskan sifat dan sikap manusia dengan gerak.

Arti ketiga,drama adalah cerita konflik dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dihadapan penonton.
Dari beberapa pengertian di atas maka J. Budhy Raharjo (1986:3) menarik kesimpulan bahwa drama adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas, dengan media percakapan, gerak dan laku yang didasarkan pada naskah tertulis (sebagai hasil sastra) dengan atau tanpa layar,music, nyanyian atau tarian untuk disaksikan oleh penonton.Daftar Pustaka:Aminuddin. 1995. Pengantar Apresiasi karya sastra, Bandung: Penerbit Sinar Baru AlgesindoRaharjo, J. Budhy . 1986. Seni Teater.

Terjemahan:
DRAMAbefore PrayerBy Kecuk Ismadi C. R.The location in a quiet alley near a mosque in a village . Sounded the gong and drum beaten , then followed the call to prayer .Pickpocket III : ” That sounds what ? “Pickpocket II : ” Sound the call to prayer . “Pickpockets I: ” What ? Sounds crazy person ? “Pickpocket II : ” Adhan , idiot! “Pickpockets I: ” What ? ” ( Meniling – nilingkan head )Pickpocket II : ” Adhan , deaf ? “I pickpocket : ” Oh , the call to prayer . Athan was what anyway ? “Pickpocket III : ” The adhan call to prayer run . yesright? Right? “Pickpocket II : ” Ho – oh ! “I pickpocket : ” Adhan ! Adhan ! Well this is the first time I heard the term.Kok , almost the same , huh ? Adhan ! Edan ! “Pickpocket IV : ” Hush , Dosaaaa ! Sin you know , you . “Pickpockets I: ” Right, how sin ? It’s a fact ? Azan said I wasrarely heard . LHA , if it is often said mah crazyI heard . When I was in the dorm . “Pickpocket III : ” Well , the style ! So you ‘ve lived in a dorm ? “I pickpocket : ” Obviously , dong ! Seen I look it seems . “Pickpocket IV : ” Where the hell is your dormitory ? “I pickpocket : ” Well I am very ngetop dorm ! “Pickpocket II : ” LHA yes , where ? Where is it ? “I pickpocket : ” In … where , yes ? If no one in Pakem . “Pickpockets II , III , IV : ” Oooooo , Pakem ? ! Deserve , deserve . ” ( Laughter )I pickpocket : ” Why are you laughing with each other , ha ? Why ? Ha ? Why ?Pickpocket III : ” Jebolannya retired wong crazy ! Hahahaha former madman . (Mutual laughter ) Dropout mental hospital . “I pickpocket : ” Who is retired wong crazy ? “Pickpocket IV : ” Experience, yes you were ! Was it not you who? Me ? ahnot deserve dong . I’m fitting right to be president . “Pickpocket II : ” I am fitting so the prime minister abroad. “Pickpocket III : “If my fitting so great playwright . likeShakespeare , Anton Chekov , Stainslavky , or at leastRendra not . “I pickpocket : ( Smiling – smile ) “If I … if I … fittingso … so … “Pickpocket II : ” Yes , so wong crazy ! ” ( Everyone laughing )……………………..Source: Teen Drama set of 1991: 61-62ANALYSISIntrinsic Elements :1 . theme :Conversation fellow pickpocket2 . Agents:From the above it can be concluded that plays the message that we can take that first Introspection was before judging something .3 . Groove / Plot :This drama is grooved single , simple and easy to follow . The story in this drama begins in a small alley near the mosque in a village berkumpulah group of pickpockets who was intercourse between one another . On the other hand , in a mosque sounded the call to prayer , one of the thief deprecating joke about the call to prayer , and there was little debate about what the call to prayer and bersunda guaru .4 . Background / setting :Places : A small alley near a mosque in a villageTime : Before the call to prayerThe location in a quiet alley near a mosque in a village . Sounded the gong and drum beaten , then followed the call to prayer .5 . People and PersonalitiesI pickpocket : Naughton , digress , and knowledgeablyPickpockets I: ” What ? Sounds crazy person ? “Pickpocket II : Can not wait , easily carried awayPickpocket II : ” Adhan , idiot! “Pickpocket III : DreamerPickpocket III : “If my fitting so great playwright . Like Shakespeare , Anton Chekov , Stainslavky , or at least Rendra . “Pickpocket IV : Well , DreamerPickpocket IV : ” Hush , Dosaaaa ! Sin you know , you . “b . understanding dramaPunched out of the home he said , the word drama comes from the Ancient Greek language ; draomai which means do , act or action . But when the time Aehylus ( 525-456 seb.M ) drama gets additional meaning into events , treatise or essay .To clarify the meaning of the definition above , let us review the meaning of the drama in three senses :The first meaning . Drama is Kwalitet communication , situation , action ( all that is seen on stage ) that give rise to concern , greatness , ( exiting ) and a strain on the hearing or the audience )The second meaning . Based on some opinions about the dramas by:1 . Moluton , the drama is : life is depicted with motion (life presented in action ) .2 . Brander Mathews , the drama is the conflict of human nature is the principal source of drama .3 . Ferdinand Brutierre , the drama is to be human will give birth to action4 . Balthazar Verhagen , the drama is the art which depicts the nature and attitude of human motion .A third meaning , the drama is the story of conflict in the form of dialogue that is projected on the stage in front of an audience using the conversation .From some of the above then Budhy Raharjo J. ( 1986:3 ) drew the conclusion that the drama is a story of life and human life as told on stage , with the media conversation , movement and behavior based on a script written ( as a result of literature ) with or without a screen , music , singing or dancing to be seen by the audience .Bibliography :Aminuddin . , 1995. Introduction to the Appreciation of literature , New York: New Light Publishers AlgesindoRaharjo , J. Budhy . , 1986. Theatre Arts .

S(IV). Belajar dan Pembelajaran

Beberapa Pendekatan Pembelajaran yang Bisa Digunakan
 
Proses belajar mengajar di sekolah menjadi salah satu proses yang penting dalam rangka peningkatan pengetahuan siswa. Meski demikian, proses pembelajaran itu tidak bisa sesederhana guru menyampaikan materi lalu siswa mendengarkan dan mencatat. Dalam proses penyampaian materi, perlu ada pendekatan pembelajaran agar materi yang disampaikan itu benar-benar bisa dipahami oleh siswa yang bersangkutan dan kemudian bisa diaktualisasikan dengan baik. Berbicara tentang pembelajaran, ada banyak pendekatan yang bisa digunakan untuk mendukung proses pembelajaran. Cara pendekatan ini bersifat fleksibel, jadi tidak ada prinsip baku. Setiap guru bisa menggunakan cara pendekatan tertentu dengan menyesuaikan materi yang akan disampaikan. Saat ini, ada beberapa cara pendekatan yang ada, contohnya pendekatan konsep, proses, induktif, deduktif,  dan beberapa pendekatan lain.
Pendekatan konsep merupakan cara pendekatan yang klasik dan sudah umum digunakan. Padapendekatan pembelajaran ini, guru akan menyampaikan konsep-konsep dan materi-materi pembelajaran saja, sehingga siswa pun akan terdorong untuk lebih berpikir abstrak. Pendekatan selanjutnya adalah pendekatan proses. Pada pendekatan ini, siswa diberi kesempatan untuk bisa memahami secara lebih mendalam tentang konsep-konsep yang diberikan oleh guru mereka, sehingga pemahaman yang dimiliki pun tak lagi terlalu abstrak. Dan yang ketiga, ada pendekatan deduktif. Pada pendekatan ini, siswa akan diajak untuk berpikir secara deduktif, yaitu berawal dari hal-hal umum yang kemudian mengerucut pada hal-hal yang lebih spesifik. Contohnya adalah pembelajaran dengan memberikan materi pembelajaran, lalu setelah itu memberikan contoh-contoh terkait dengan materi yang diberikan.
Setelah itu, ada pula pendekatan pembelajaran induktif. Pada pembelajaran ini, siswa justru diajak untuk bisa menarik suatu kesimpulan berdasarkan fakta-fakta yang sudah dipaparkan. Pendekatan ini merupakan kebalikan dari pendekatan deduktif. Selanjutnya, ada pendekatan heuristik. Pada pendekatan ini, siswa akan mendapatkan porsi utama dalam pembelajaran karena mereka akan dirangsang untuk mampu menemukan sendiri pengetahuan-pengetahuan yang ada berdasarkan penekanan atau poin-poin tertentu. Kemudian, guru bisa juga menggunakan pendekatan manajemen kelas. Pada pendekatan ini, guru bertanggungjawab untuk sebisa mungkin mengatur suasana kelas agar menjadi tempat yang sangat kondusif untuk kegiatan belajar mengajar. Itulah beberapa pendekatan yang bisa digunakan untuk membantu proses pembelajaran.

S(IV). Linguistic. 17 Language history and change

Fæder ure þu þe eart on heofonum,
si þin nama gehalgod.
Tobecume þin rice.
Gewurþe þin willa on eorðan swa swa on heofonum.
Urne gedæghwamlican hlaf syle us to dæg.
And forgyf us ure gyltas,
swa swa we forgyfað urum gyltendum.
And ne gelæd þu us in costnunge,
ac alys us of yfele. The Lords Prayer (circa 1000)
This barely recognizable version of the Lords Prayer from about a thousand years ago
provides a rather clear indication that the language of the Englischas gone through
substantial changes to become the English we use today. Investigating the features of older
languages, and the ways in which they developed into modern languages, involves us in the
study of language history and change, also known as philology. In the nineteenth century,
philology dominated the study of language and one result was the creation of family trees
to show how languages were related. Before all of that could happen, however, there had to
be the discovery that a variety of languages spoken in different parts of the world were
actually members of the same family.
Comparative reconstruction
Using information from these sets of cognates, we can embark on a procedure called
comparative reconstruction. The aim of this procedure is to reconstruct what must
have been the original or “proto” form in the common ancestral language. In carrying
out this procedure, those working on the history of languages operate on the basis of
some general principles, two of which are presented here.
The majority principle is very straightforward. If, in a cognate set, three words
begin with a [p] sound and one word begins with a [b] sound, then our best guess is
that the majority have retained the original sound (i.e. [p]).
The most natural development principle is based on the fact that certain types of sound
change are very common whereas others are extremely unlikely. The direction of change
described in each case (1)–(4) has been commonly observed, but the reverse has not.
(1) Final vowels often disappear (vino vin)
(2) Voiceless sounds become voiced, typically between vowels (muta muda)
(3) Stops become fricatives (ripa riva)
(4) Consonants become voiceless at the end of words (rizu ris)
Sound reconstruction
If we were faced with some examples from three languages, as shown below, we could
make a start on comparative reconstruction by deciding what was the most likely form
of the initial sound in the original source of all three.
Languages
A B C
cantare cantar chanter (sing)
catena cadena chaîne (chain)
caro caro cher (dear)
cavallo caballo cheval (horse)
Since the written forms can often be misleading, we check that the initial sounds of the
words in languages A and B are all [k] sounds, while in language C the initial sounds
are all [ʃ] sounds.
On the evidence presented, themajority principle would suggest that the initial sound
[k] in languages A and B is older than the [ʃ] sound in language C. Moreover, the [k]
sound is a stop consonant and the [ʃ] sound is a fricative. According to one part of the
most natural development principle,” change tends to occur in the direction of stops
becoming fricatives, so the [k] sound is more likely to have been the original. Through
this type of procedure we have started on the comparative reconstruction of the common
origins of some words in Italian (A), Spanish (B) and French (C). In this case, we have a
way of checking our reconstruction because the common origin for these three languages
is known to be Latin. When we check the Latin cognates of the words listed, we
find cantare, catena, carus and caballus, confirming that [k] was the initial sound.
Word reconstruction
Looking at a non-Indo-European set of examples, we can imagine receiving the
following data from a linguist recently returned from an expedition to a remote region
of the Amazon. The examples are a set of cognates from three related languages, but
what would the proto-forms have looked like?
Languages
1 2 3 Proto-forms
mube mupe mup ________ (stream)
abadi apati apat ________ (rock)
agana akana akan ________ (knife)
enugu enuku enuk ________ (diamond)
Using the majority principle, we can suggest that the older forms will most likely be
based on language 2 or language 3. If this is correct, then the consonant changes must
have been [p] [b], [t] [d] and [k] [ɡ] in order to produce the later forms in
language 1. There is a pattern in these changes that follows one part of the “most
natural development principle,” i.e. voiceless sounds become voiced between vowels.
So, the words in languages 2 and 3 must be older forms than those in language 1.
Which of the two lists, 2 or 3, contains the older forms? Remembering one other
most natural development” type of sound change (i.e. final vowels often disappear),
we can propose that the words in language 3 have consistently lost the final vowels still
present in the words of language 2. Our best guess, then, is that the forms listed for
language 2 are closest to what must have been the original proto-forms.
The history of English
The reconstruction of proto-forms is an attempt to determine what a language must
have been like before any written records. However, even when we have written
records from an older period of a language such as English, they may not bear any
resemblance to the written form of the language found in today’s newspapers. The version of the Lord’s Prayer quoted at the beginning of this chapter provides a good
illustration of this point. Even some of the letters seem quite alien. The older letters þ
(called “thorn”) and ð (“eth”) were both replaced by “th” (as in þuthou, eorðan
earth), and æ (“ash”) simply became “a” (as in to dæg today). To see how one
language has undergone substantial changes through time, we can take a brief look at
the history of English, which is traditionally divided into four periods.
Old English: before 1100
Middle English: 1100 to 1500
Early Modern English: 1500 to 1700
Modern English: after 1700

Sound changes
In a number of changes from Middle to Modern English, some sounds disappeared
from the pronunciation of certain words, in a process simply described as sound loss.
The initial [h] of many Old English words was lost, as in hlud loud and hlaford
lord. Some words lost sounds, but kept the spelling, resulting in the “silent letters” of
contemporary written English. Word-initial velar stops [k] and [ɡ] are no longer
pronounced before nasals [n], but we still write the words knee and gnaw with the
remnants of earlier pronunciations.
Another example is a velar fricative [x] that was used in the older pronunciation of
nicht as [nɪxt] (closer to the Modern German pronunciation of Nacht), but is absent in
the contemporary form night, as [naɪt]. A remnant of this sound is still present in some
dialects, as at the end of the Scottish word loch, but it is no longer a consonant in
Modern English speech.
The sound change known as metathesis involves a reversal in position of two
sounds in a word. This type of reversal is illustrated in the changed versions of these
words from their earlier forms.
acsian ask frist first brinnan beornan (burn)
bridd bird hros horse wæps wasp
The cowboy who pronounces the expression pretty good as something close to purty
good is producing a similar example of metathesis as a dialect variant within Modern
English. In some American English dialects, the form aks, as inI aksed him already, can
still be heard instead of ask.
The reversal of position in metathesis can sometimes occur between non-adjoining
sounds. The Spanish word palabra is derived from the Latin parabola through the
reversal of the [l] and [r] sounds. The pattern is exemplified in the following set.
Latin Spanish
miraculum milagro (miracle)
parabola palabra (word)
periculum peligro (danger)
Another type of sound change, known as epenthesis, involves the addition of a sound
to the middle of a word.
æmtig empty spinel spindle timr timber
The addition of a [p] sound after the nasal [m], as in empty, can also be heard in some
speakers’ pronunciation of something as “sumpthing.” Anyone who pronounces the
word film as if it were “filum,” or arithmetic as “arithametic,” is producing examples of
epenthesis in Modern English.
One other type of sound change worth noting, though not found in English, occurs in
the development of other languages. It involves the addition of a sound to the beginning
of a word and is called prothesis. It is a common feature in the evolution of some
forms from Latin to Spanish, as in these examples.
schola escuela (“school”)
spiritus espı´ritu (“spirit”)
Spanish speakers who are starting to learn English as a second language will sometimes
put a prothetic vowel at the beginning of some English words, with the result that
words like strange and story may sound like “estrange” and “estory.”
Syntactic changes
Some noticeable differences between the structure of sentences in Old and Modern
English involve word order. In Old English texts, we find the Subject-Verb-Object order
most common in Modern English, but we can also find a number of different orders
that are no longer used. For example, the subject could follow the verb, as in ferde he
(“he traveled”), and the object could be placed before the verb, as in he hine geseah
(“he saw him”), or at the beginning of the sentence, as in him man ne sealde (“no man
gave [any] to him”).
In the last example, the use of the negative also differs from Modern English, since
the sequence *not gave (ne sealde) is no longer grammatical. A “double negative”
construction was also possible, as in the following example, where both ne (“not”) and
næfre (“never”) are used with the same verb. We would now say You never gave rather
than *You not gave never.
and ne sealdest þu¯ me næfre a¯ n ticcen
and not gave you me never a kid
However, the most sweeping change in the form of English sentences was the loss of
a large number of inflectional suffixes from many parts of speech. Notice that, in the
previous examples, the forms sealde (“he gave”) and sealdest (“you gave”) are differentiated
by inflectional suffixes (-e, -est) that are no longer used in Modern English. Nouns, adjectives, articles and pronouns all had different inflectional forms according
to their grammatical function in the sentence.
Semantic changes
The most obvious way in which Modern English differs from Old English is in the
number of borrowed words that have come into the language since the Old English
period. (For more on borrowing, see Chapter 5.) Less obviously, many words have
ceased to be used. Since we no longer carry swords (most of us, at least), the word foin,
meaning “the thrust of a sword,” is no longer heard. A common Old English word for
man” was were, but it has fallen out of use, except in horror films where the
compound werewolf occasionally appears. A number of expressions such as lo, verily
or egad are immediately recognized as belonging to a much earlier period, along with
certain medieval-sounding names such as Bertha, Egbert and Percival.
Two other processes are described as “broadening” and “narrowing” of meaning.
An example of broadening of meaning is the change from holy day as a religious feast
to the very general break from work called a holiday. We have broadened the use of
foda (fodder for animals) to talk about all kinds of food. Old English words such as
luflic (“loving”) and hræd (“quick”) not only went through sound changes, they also
developed more complex evaluative meanings (“wonderful” and “preferentially”), as
in their modern uses: That’s a lovely idea, but I’d rather have dinner at home tonight.
Another example is the modern use of the word dog. We use it very generally to refer to
all breeds, but in its older form (Old English docga), it was only used for one particular
breed.
The reverse process, called narrowing, has overtaken the Old English word hund,
once used for any kind of dog, but now, as hound, used only for some specific breeds.
Another example is mete, once used for any kind of food, which has in its modern form
meat become restricted to only some specific types. The Old English version of the
word wife could be used to refer to any woman, but has narrowed in its application
nowadays to only married women. A different kind of narrowing can lead to a negative
meaning for some words, such as vulgar (which used to mean simply “ordinary”) and
naughty (which used to mean “having nothing”).

S(IV). TEFL

I. INTRODUCTION
Learning is identical with teaching, an activity in which teachers teach or guide the students toward the maturing process themselves. So, the term equivalent to the term – teaching learning. That is, we do not have to be diametrically contrasting between teaching( teacher-centered) with learning (student – centered), because in essence it can take place both synergistic activity. Thus, here also should be understood that teacher in teaching learning while students in learning is also teaching.

HOW TO MANAGE TEACHING AND LEARNING
A. How should teachers use their physical presence in class?
B. How should teachers use their voices in class?
C. How should teachers mark the stages of a lesson?
D. What’s the best seating arrangement for a class?
E. What different student groupings can teachers use?
F. How can teachers evaluate the success or failure of their lessons?

II. DISCUSSION
A. How should teachers use their physical presence in class?
As we saw from the comment about a teachers clothes (page 3) “the teacher needs to have dress sense- not always the same old boring suits and ties!” , the teacher’s physical presence plays a large part in his or her management of the classroom environment.
All teachers, like all people, have their own physical characteristics and habits, and they will take these into the classroom with them. But there are a number of issues to consider which are not just idiosyncratic  and which have a direct bearing on the students’  perceptionyncratic  and which have a direct bearing on the students’  perception of us.
Proximity : teachers should consider how close they want to be to the students they are working with.
Appropriacy  : deciding how closely you should work with students is a matter of appropriacy.
Movement :  Some teachers tend to spend most of their class time in one place – at the front of the class, for example: to the side or in the middle.
Most successful teachers move around the classroom to some extent. How much a teacher moves around in the classroom, then, will depend on his or her personal style, where he or she feels most comfortable for the management of the class, how she or he feels it easier  to manage the classroom effectively, and whether or not he or she wants to work with smaller groups. 
Contact : much of what we have said is about the  issue of contact. In order to manage a class successfully, the teacher has to be aware  of what students are doing and, where possible, how they are feeling. It is almost impossible to help students to learn a language in a classroom setting without making contact with them. The exact nature of this contact will vary from teacher to teacher and from class to class. The teacher’s physical approach and personality in the class management to consider. Another is one of the teacher’s chief tools, the voice.

B. How should teachers use their voices in class?
Perhaps the teacher’s most important instrument is the voice. How we speak and what our voice sounds like have a crucial impact on class. When considering the use of the voice in the management of teaching, there are three issues to think about.
o Audibility : clearly, teachers need to be audible. Teachers do not have to shout to be audible. In fact, in most classrooms,  there is a danger of the teacher’s voice being too loud. Good teachers try to get this balance between audibility and volume just right.
o Variety : it is important for teachers to vary the quality of their voices- and the volume they speak at- depending on the type of lesson and the type of activity. In one particular situation, teachers often use very loud voices, and that is when they want students to be quite or stop doing something but it is worth pointing out that speaking quietly is often.
o Conservation : just like opera singers, teachers have to take great care of their voices.

C. How should teachers mark the stages of a lesson?
The teacher needs to provide variety, then clearly he or she will have to include different stages in his or her lessons. Teachers do not always explain exactly what they are going to do, however, since they sometimes want to maintain an element of surprise. In order for such changes of direction to be effective,
o The teachers first  needs to get the student’s attention.
o Some teachers clap their hands to get student’s attention.
o Some other teachers speak loudly, saying thing like, ‘thank you….. now can I have your attention please? Or  ‘ OK… thanks…….. let’s all face the front shall we?
o Another method is for the teacher to raise his or her hand.
o Finally, when activity or a lesson has finished, it helps if the teacher is able to provide some kind of closure- a summary of what has happened, perhaps, or a prediction of what will take place in the next lesson.

D. What’s  the best seating arrangement for a class?
In many classrooms around the world students sit in orderly rows. Sometimes, their chairs have little wooden pallets on one  of the arms as surfaces to write on. Sometimes, the students  will have desks in front of them. Clearly, we are seeing a number of different approaches in the different arrangements of chairs and this raises a number of a questions.
Is there something intrinsically superior about rigid seating arrangement  – or are such classrooms the product of traditional orthodoxy? Is one kind of seating arrangement better than another? What are the advantages of each? The following discuss these various arrangements.
o Orderly rows : when the students sit in rows in classrooms, there are obvious advantages. It means that the teacher has a clear view of all the students and the students can all see the teacher – in whose direction they are facing.
o One trick that many teachers use is to keep their students guessing. Especially where teachers need to ask individual students questions, it is important that they should not do so in order, student after student, line by line. That way, the procedure becomes very tedious and the students know when they are going to be asked and, once this has happened, that they are not going to be asked again.
o Circles and horseshoes : in smaller classes, many teachers and students prefer circles or horseshoes. In a horseshoes, the teacher will probably be at the open end of the arrangement since that may well be where the board, overhead projector and/or tape recorder are situated. In circle, the teacher’s position – where the board is situated – is less dominating. Classes which are arranged in a circle make quite a strong statement about what the teacher and the students believe in.
o Separate tables: even circles and horseshoes seem rather formal compared to classes where students are seated  in small groups at individual tables. When students sit in small groups at individual tables, the atmosphere in the class is much less hierarchical than in other arrangements. It is much easier for the teacher to work at one table while the others get on with their own work. However, this arrangement  is not without its own problems. In the first place, students may not always want to be with the same colleagues: indeed, their preferences may change over time. Secondly, it makes ‘whole-class’ teaching more difficult, since the students are more diffuse and separated.

E. What different student groupings can teachers use?
Whatever the seating arrangement in a classroom, students can be organized in different ways: they can work as a whole class, in groups, In pairs, or individually.
Whole class: as we have seen, there are many occasions when a teacher working with the class as a whole is the best type of classroom organization. However, this does not always mean the class sitting in orderly rows; whatever the seating arrangement, the teacher can have the students focus on him or her and the task in hand.
Groupwork and pairwork: these have become increasingly popular in language teaching since they are seen to have many advantages.
Solowork: this can have many advantages:
- It allows students to work students to work at their own speed,
- It allows them thinking  time, and allows them to be individuals.
How much teachers use groupwork, pairwork or solowork depends to a large extent on teacher style and student preferences.

F. How can teachers evaluate the success or failure of their lessons?
All teachers, whatever at the start of their careers or after some years of teaching, need to be able to try out new activities and techniques. But such experimentation will be of little use unless we can then evaluate these activities. Were they successful? Did the students enjoy them? Did they learn anything from them? How could the activities be changed to make them more effective next time?
One way of getting feedback is to ask students simple questions such as ‘ did you like that exercise? Did you find it successful? And see what they say. Another way of getting reactions is to invite a colleague into the classroom and ask him or her to observe what happens and make suggestion afterwards. In general, it is a good idea to get student’s reaction to lessons, and their aspirations about them, clearly stated. Good teachers managers also need to asses how well their students are progressing. This can be done through a variety of measures including homework assignment, speaking activities where the teachers scores the participation of each student, and frequent small progress tests. Good teachers keep a record of their student’s achievements so that they are always aware of how they are getting on. Only if the teachers keep such kinds of progress records can  they begin to see when teaching and learning has or has not been successful.

III. CONCLUSIONS
In this chapter we have
- Discussed the teacher’s physical presence, saying that we should pay attention to our proximity to the students, think about how much we move around the class, and consider the appropriacy of our behavior in general.
- Discussed the fact that the teachers need to be clearly audible without shouting in a disagreeable way and stressed the need for variety in the way teachers use their voices. Different activities call for different voices. And the varied use of the voice makes for more interesting classes.

S(IV). BIMBINGAN DAN KONSELING

I. KATA PENGANTAR
Bimbingan dan konseling adalah dua istilah yang sering kita jumpai bagaikan kata majemuk. Bimo Walgito (1982: 11) merumuskan bahwa bimbingan menurut banyak ahli, bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu-individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan didalam kehidupanya, agar individu atau sekumpulan individu-individu itu dapat mencapai kesejahteraan hidupnya.
Bimo Walgito (1982: 11) menyatakan bahwa konseling adalah bantuan yang diberikan kepada individu dalam memecahkan masalah kehidupanya dengan wawancara, dengan cara-cara yang sesuai dengan keadaan individu yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidupnya.

II. POKOK MASALAH
A. Peranan bimbingan dan konseling dalam pembelajaran siswa.
B. Landasan dan bimbingan konseling
C. Prinsip –prinsip operasional bimbingan dan konseling di sekolah

III. PEMBAHASAN
A. Peranan bimbingan dan konseling dalam pembelajaran siswa.
Beberapa gejala bahwa siswa mengalami kesulitan dalam belajar seperti yang dikemukakan Abu Ahmadi (1977) sebagai berikut:
1. Hasil belajarya rendah, dibawah rata-rata kelas.
2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukanya.
3. Menunjukkan sikap yang kurang wajar: suka menentang, dusta, tiddak mau menyelesaikan tugas-tugas, dan sebagainya.
4. Menunjukkan tingkah laku yang berlainan seperti suka membolos, suka mengganggu dan sebagainya.

Siswa yang mengalami kesulitan belajar kadang-kadang ada yang mengerti bahwa dia mempunyai masalah ttetapi tidak tahu bagaimana mengatasinya, dan ada juga tidak mengerti kepada siapa ia harus meminta bantuan dalam menyelesaikan masalahnya itu. Apabila masalahnya itu belum teratasi, mereka mungkin tidak dapat belajar dengan baik, karena konsentrasinya akan terganggu. Jika kondisinya demikian maka mereka (siswa-siswa iitu) membutuhkan bimbingan dan konseling yang meliputi antara :
1) Bimbingan belajar
Bimbingan – bimbingan ini dimaksudkan untuk mengatasi masalah –masalah yang berhubungan dengan kegiatan belajar baik disekolah maupun diluar sekolah.
a) Cara belajar, baik belajar secara kelompok ataupun individual.
b) Cara bagaimana merencanakan waktu dan kegiaan belajar.
c) Efisiensi dalam menggunakan buku-buku pelajaran.
d) Cara mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan degan mata pelajaran tertentu.
e) Cara, proses, dan prosedur tentang mengikuti pelajaran.
Menurut Winkel (1978) mengatakan bahwa layanan bimbingan dan konseling mempunyai peranan penting untuk membantu siswa, antara lain dalam hal:
a) Mengenal diri sendiri dan mengerti kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi       mereka, baik sekarang maupun yang akan dating.
b) Mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajarnya. Misalnya masalah hubungan    muda-mudi. Masalah ekonomi,masalah hubungan dengan orang tua/keluarga, dan sebagainya.


2) Bimbingan social, dan
Dalam proses belajar di kelas siswa juga harus mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan kelompok. Dalam kehidupan kelompok perlu adanya toleransi/tenggang rasa, saling member dan menerima (take and give), tidak mau menang sendiri, atau kalau mempunyai pendapat harus diterima dalam mengambil keputusan. Bimbingan social ini dimaksudkan untuk membantu siswa dalam memecahkan dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan masalah social, sehingga terciptalah suasana belajar-mengajar yang kondusif. Menurut Abu Ahmadi (1977) bimbingan social ini dimaksudkan untuk:
a) Memperoleh kelompok belajar dan bermain yang sesuuai.
b) Membantu memperoleh persahabatan yang sesuai.
c) Membantu mendapatkan kelompok sosial untuk memecahkan masalah tertentu.
Disamping itu, bimbingan sosial juga dimaksudkan agar siswa dapat melakukan penyesuaian diri terhadap teman sebayanya baik di sekolah maupun di luar sekolah (Downing, 1978).

3) Bimbingan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi.
Bimbingan ini dimaksudkan untuk meringsnkan beban siswa dalam mengatasi masalah-maslah pribadi, yang dapat mengganggu kegiatan belajarnya. Siswa yang mempunyai masalah dan belum dapat diatasi/dipecahkan, akan cenderung terganggu konsentrasi dalam belajarnya, dan akibatnya prestasi belajar yang dicapainya rendah. Dalam kurikulum SMA tahun 1975 buku III C tentang pedoman Bimbingan dan penyuluhan dinyatakan ada beberapa masalah pribadi yang memerlukan bantuan konseling, yaitu masalah akibaat konflik antara:
a) Perkembangan intelektual dengan emosinya.
b) Bakat dengan aspirasi lingkunganya.
c) Kehendak siswa dengan orang tua atau lingkunganya.
d) Kepentingan siswa dengan orang tua atau lingkunganya.
e) Situasi sekolah dengan situasi lingkungan.
f) Bakat dan pendidikan yang kurang bermutu dengan kelemahan 
g) keengganan mengambil pilihan.
Hal yang serupa yang di kemukakan oleh downing (1968) bahwa layanan bimbingan di sekolah sangat bermanfaat. Terutama dalam membantu:
a) menciptakan suasana hubungan sosial yang menyenangkan.
b) Menstimulasi siswa agar mereka meningkatkan partisipasinya dalam kegiatan  belajar – mengajar.
c) Menciptakan atau mewujudkan pengalaman belajar  yang lebih bermakna.
d) Meningkatkan motivasi belajar siswa.
e) Menciptakan dan menstimulasi tumbuhnya minat belajar.

B. Landasan dan bimbingan konseling
Pemberian layanan bimbingan dan konseling pada hakikatnya selalu didasarkan atas landasan –landasan utama atau prinsip-prinsip dasar. Hal ini berupaa keyakinan – keyakinan yang pada akhirnya dapat mewarnai seluruh kegiatan bimbingan dan konseling. Menurut Winkel (1991) landasan – landasan itu adalah sebagai berikut.
1) Bimbingan selalu memperhatikan perkembangan siswa sebagai individu yang mandiri dan mempunyai potensi untuk berkembang.
2) Bimbingan berkissar pada dunia subjektif masing – masing individu.
3) Kegiatan bimbingan dilaksanakan atas dasar kesepakatan antara pembingbing dengan yang dibimbing.
4) Bimbingan berlandaskan pengakuan akan martabat dan keluhuran individu yang dibimbing sebagai manusia yang mempunyai hak – hak asasi (human rights).
5) Bimbingan adalah suatu kegiatan yang bersifat ilmiah yang mengintegrasikan bidang –bidang  ilmu yang berkaitan dengan pemberian bantuan psikologis.
6) Pelayanan ditunjukkan kepada semua siswa, tidak hanya untuk individu yang bermasalah saja.
7) Bimbingan merupakan suat proses, yaitu berlangsung secara terus – menerus, berkesinambungan, berurutan, dan mengikuti tahap – tahap perkembangan anak.
Landasan –landasan tersebut merupakan dasar filosofis dalam layanan bimbingan dan konseling. Sebagai satu kegiatan yang bersifat professional. Dasar ini menetukan pendekatan (approach) yang di tempuh dalam membantu klien untuk memecahkan masalahhnya.
C. Prinsip – Prinsip Operasional Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Prinsip –prinsip yang dimaksud ialah landasan teoretis yang mendasari pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling, agar layanan tersebut dapat lebih terarah dan berlangsung dengan baik. Bagi para konselor dalam melaksanakan kegiatan ini perlu sekali memperhatikan prinsip – prinsip tersebut. Berikut tentang ini di kemukakan rumusan tentang prinsip – prinsip bimbingan yang dituangkan dalam kurikulum SMA tahun 1975 buku III C tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling, yang selanjutnya akan diganti dengan pedomana bimbingan dan konseling dalam kurikulum 1994.
1) Prinsip –prinsip umum ini dikemukakan beberapa acuan umum yang mendasari semua kegiatan bimbingan dan konseling. Prinsip – prinsip ini antara lain :
a) Karena bimbingan itu berhubungan dengan sikap dan tingkah laku individu, perlu diingat bahwa sikap dan tingkah laku individu itu terbentuk dari segala aspek kepribadian yang unik dan ruwet, sikap dan tingkah laku tersebut dipengaruhi oleh pengalaman – pengalamanya. 
b) Perlu dikenal dan dipahami karakteristik individual dari individu yang dibimbing.
c) Bimbingan di arahkan kepada bantuan yang di berikan supaya individu yang bersangkutan mampu membantu atau menolong dirinya sendiri dalam menghadapi kesulitan – kesulitannya.
d) Program bimbingan harus sesuai dengan program pendidikan disekolah yang bersangkutan.
e) Pelaksanaan program bimbingan harus di pimpin oleh seorang petugas yang memiliki keahlian dalam bimbingan dan sanggup bekerja sama dengan para pembantunya serta dapat dan bersedia mempergunakan sumber –sumber yang berguna di luar sekolah.
f) Terhadap program bimbingan harus senantiasa diadakan penilaian secara teratur untuk mengetahui sampai di mana hasil dan manfaat yang diperoleh serta persesuaian antara pelaksanaan dan renccana yang dirumuskan terdahulu.
2) Prinsip – prinsip yang berhubungan dengan individu yang di bombing
a) Layanan bimbingan harus diberikan kepada semua siswa. Maksudnya bahwa pembimbing dalam memberikan layanan tidak tertuju kepada siswa tertentu saja, tetapi semua siswa perlu mendapatkan bimbingan, baik yang mempunyai masalah ataupun belum.
b) Harus ada kriteria untuk mengatur prioritas layanan kepada siswa tertentu. Misalnya: beerupa hasil belajar mereka peroleh.Semakin rendah hasil hasil belajar siswa dari sebelumnya. Maka mereka itu perlu diprioritaskan untuk mendapatkan bantuan, dan hal itu tidak boleh ditunda –tunda sebab jika ditunda maka akan menyebabkan kesulitan, baik yang menyangkut belajarnya maupun emosionalnya.
c) Program bimbingan harus berpusat pada siswa. Program yang disusun harus didasarkan atas kebutuhan siswa.
d) Layanan bimbingan harus dapat memenuhi kebutuhan – kebutuhan individuyang bersangkutan secara serba ragam dan serba luas.
e) Keputusan terakhir dalam proses bimbingan ditentukan oleh individu yang dibimbing. Dalam pelaksanaan bimbingan, pembimbing tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada individu yang dibimbing. Peranan pembimbing hanya memberikan arahan – arahan serta berbagai kemungkinan, dan keputusan mana yang akan diambil diserahkan  sepenuhnya kepada  individu yang dibimbing. Dengan demikian klien mempunyai tanggung jawab penuh terhadap keputusan yang diambilnya itu.
f) Indivvidu yang mendapat bimbimbingan harus berangsur – angsur dapat membimbing dirinya sendiri. Hasil pemberian layanan diharapkan tidak hanya berguna pada waktu pemberian layanan itu saja, tetapi jika individu mengalami masalah yang sama dikemudian hari ia akan dapat mengatasinya sendiri, ehingga tingkat ketergantungan individu kepada pembimbing semakin berkurang. Tujuan akhir dari kegiatan ini ialah memandirikan individu yang dibimbing (klien) dalam mengatasi  masalah yang dihadapinya.

3) Prinsip – prinsip khusus yang berhubungan dengan individu yang memberikan bimbingan
a) Konselor disekolah dipilih atas dasar kualifikasi kepribadian, pendidikan, pengalaman, dan kemampuanya. Karena pekerjaan bimbingan merupakan pekerjaan yang memerlukan keahlian dan keterampilan – keterampilan tertentu, maka pekerjaan bimbingan itu tidak dapat dilakukan oleh semua oang. Dengan demikian, orang yang bertugas sebagai pembimbing disekolah harus dipilih atas dasar – dasar tertentu, misaalnya: kepribadian, pendidikan, pengalaman, dan kemampuanya, karena kualifikasi tersebut dapat mendukung keberhasilan pembimbing dalam melaksanakan tugasnya. Banyak maslah – masalah yang dalam pemecahanya diperlukan dukungan pengalaman pembimbing, keluasan wawasan maupun lainya.  
b) Konselor harus mendapat kesempatan untuk mengembangkan dirinya serta keahlian melalui berbagai latihan penataran. Karena ilmu tentang bimbingan terus berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan lainya. Agar pembimbing dapat mengikuti dan menguasai perkembangan tersebut,  pembimbing hendaklah mencari/mendapatkan kesempatan untuk mengikuti berbagai latihan dan ppenataran, sehingga potensi yand dimiliki pembimbing itu lebih berkembang lagi. Dengan demikian teknik – teknik bimbingan yang dikuasai pembimbing akan lebih kaya, dan wawasanya tentang bimbingan akan lebih luas.
c) Konselor hendaknya selalu mempergunakan informasi yang tersedia mengenai individu yang di bombing beserta lingkunganya, sebagai bahan untuk membantu individu yang bersangkutan  kea rah penyesuaian diri yang lebih baik. Untuk efektifnya pemberian bantuan kepada anak didik, pembimbing perlu mengetahui informasi tentang anak didik serta lingkunganya. Penguasaan informasi tersebut akan memudahkan pembimbing untuk membantu anak didiknya dalam mencarikan alternatif – alternatif pemecahan masalah yang dihadapinya serta dalam mengembangkan kemampuan untuk melakukan penyesuaian diri secara baik.
d) Konselor harus menghormati dan menjaga kerahasiaan informasi tentang individu yang dibimbingnya. Informasi yang diperoleh dari individu yang dibimbing itu ada yang perlu dirahasiakan, maka individu yang bersangkutan akan merasa malu dan akhirnya individu tersebut tidak akan percaya pada pembimbing. Sebagai akibanya jika pada masa datang ia mengalami masalah, ia tidak akan menyampaikanya secara jujur kepada pembimbing. Bila klien merasa yakin bahwa rahasia pribadinya terjamin, maka ia akan mau membukakan dengan terus terang permasalahan – permasalahan yang sedang dihadapinya. Dengan demikian, pembimbing dapat memperoleh informasi yang lengkap dan jelas tentang klien, sehingga mempermudah mengetahui sumber penyebab timbulnya masalah dan mempercepat pemecahan masalah itu.
e) Konselor hendaknya mempergunakan berbagai jenis metode dan teknik yang tepat dalam melakukan tugasnya. Karena keunikan masalah yang dialami oleh individu dan latar belakangnya maka dalam pemberian layanan, pembimbing dituntut untuk menguasai berbagai metode dan teknik bimbingan. Disamping itu, pembimbing juga harus menggunakan berbagai metode untuk mengatasi masalah yang dapat diselesaikan dengan satu teknik saja dan ada pula yang memerlukan lebih dari satu teknik atau metode.
f) Konselor hendaknya memperhatikan dan mempergunakan hasil penelitian dalam bidang: minat, kemampuan, dan hasil belajar individu untuk kepentingan perkembangan kurikulum sekolah yang bersangkutan. Dengan menggunakkan data yang tepat maka kegiatan bimbingan akan lebih bermakna bagi individu yang dibimbing khususnya dan pengembangan kurikulum sekolah pada umumnya.

4) Prinsip – prinsip Khusus yang berhubungan dengan Organisasi dan Administrasi bimbingan
a) Bimbingan harus dilaksanakan secara berkesinambungan.
b) Dalam pelaksanaan bimbingan haarus tersedia kartu pribadi(cumulative record) bagi setiap individu(siswa). Hal ini sangat diperlukan untuk mencatat data pribadi individu secara sistematik yang dapat digunakan untuk membantu kemajuan individu yang bersangkutan. Dengan demikian, pembimbing dapat dengan mudah mengetahui perkembangan masalah Klient dan pembimbing mempunyai data yang lengkap tentang keadaan klienya.
c) Program bimbingan harus disusun sesuai dengan kebutuhan sekolah yang bersangkutan. Karena pelaksanaan bimbingan terintegrasi dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, maka dalam penyusunan program bimbingan juga harus sesuai dengan program sekolah itu agar layanan bimbingan mempunyai sumbangan yang besar terhadap program sekolah.
d) Pembaagian waktu harus diatur untuk setiap petugas secara baik. Ini untuk menghindari penumpukan tugas –tugas dari para pembimbing. Disamping itu, juga untuk menghindari kekecewaan siswa yang merasa senang pada pembimbing tertentu, tetapi pembimbing tersebut tidak ada.
e) Bimbingan harus dilaksanakan dalam situasi individual dan dalam  situasi kelompok, sesuai dengan masalah dan metode yang dipergunakan dalam memecahkan masalah itu.
f) Sekolah harus bekerja sama dengan lembaga – lembaga di luar sekolah yang menyelenggarakan layanan yang berhubungan dengan bimbingan dan penyuluhan dan umumnya.
g) Kepala sekolah memegang tanggung jawab tertinggi dalam pelaksanaan bimbingan.

IV. KESIMPULAN
Untuk membantu proses perkembangan pribadi dan mengatasi mmasalah yang dihadapi sering kali siswa memerlukan bantuan professional. Sekolah harus dapat menyediakan layanan profesioanal yang dimaksud berupa layanan bimbingan dan konseling, karena sekolah merupakan lingkungan akan yang terpenting sesudah keluarga. Layanan ini dalam batas tertentu dapat dilakukan guru, tetapi jika masalahnya berat diperlukan petugas khusus konselor untuk menanganinya.

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

opickelrahman

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Speaker7

speaks to the masses of people not reading this blog

Cuaderno Inedito

Notes & advice for writers & editors by Julie Schwietert Collazo.

nomadruss in words and photos

photographer, wilderness guide, adventurer

The Lowdown

Where men are men and censors are nervous.

Things I find in the garbage

I'm a professional scavenger and entrepreneur making a living selling curbside garbage. This blog details my finds and sales. It also acts as an archive for things beautiful and historic that would otherwise have been destroyed.

Eric E Photo

a blog of my recent adventures in words and photos

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 486 other followers