Mudik Dengan Sepeda Motor

Banyak sekali kita jumpai pemudik yang mengendarai kendaraan roda dua atau sepeda motor. Untuk memiliki sepeda motor jaman sekarang sangatlah mudah dengan adanya fasilitas kredit yang diberikan oleh dealer. Namun hal ini para pemudik hendaknya tidak menjadikan para pengendara sepeda motor ceroboh dan kurang waspada di jalan raya.
Berikut disampaikan 9 hal yang harus dihindari ketika mudik lebaran dengan sepeda motor sebagai berikut.
 
1. Berkendaraan sepeda motor dalam keadaan cuaca buruk.
Ketika cuaca sedang tidak bersahabat hendaklah berhenti dan berstirahat di tempat yang aman dan nyaman. Hujan lebat menyebabkan pandangan mata terganggu sehingga tidak dapat melihat dengan sempurna kondisi jalan dan benda-benda yang berada di depan,di belakang atau di samping pengendara. Kondisi ini bisa menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Hujan lebat juga menyebabkan jalan raya menjadi licin. Selain itu genangan air dapat menutup permukaan jalan yang berlobang sehingga tak diketahui dan dihindari oleh pengendara sepeda motor. Ini juga sangat membahayakan.

2. Membawa banyak barang sehingga mengganggu kenyamanan dan keselamatan yang membonceng maupun yang dibonceng.
Sering terlihat di jalan raya pengendara sepeda motor yang membawa barang cukup banyak yang diletakkan di bagian belakang dan depan sepeda motor misalnya dos, karung dan benda-benda lain. Jika benda-benda ini bergerak lalu miring dan akan jatuh tentu bisa mengganggu konsentrasi pengendara. Bawa barang secukupnya saja toh oleh-oleh bisa dibeli di toko atau pasar terdekat dari tujuan mudik.

3. Berhenti di tempat sepi sendirian.
Jika merasa lelah carilah tempat istirahat yang cukup ramai. Hindari berhenti di tempat sepi dan sendirian, terutama pada malam hari. Di tengah hutan, di taman yang jauh keramaian hendaknya dihindari sebagai tempat istirahat. Bukan tidak mungkin ada orang jahat yang menggunakan tempat-tempat sepi tersebut untuk melakukan kejahatannya misalnya merampok, merampas dan lain sebagainya. Jika kendaraan mogok di tempat sepi usahakan mendorongnya sampai tempat yang cukup ramai dan sering dikunjungi orang misalnya SPBU, masjid, mushola, kantor polisi, rest area, dan lain-lainnya.

4. Menjalankan sepeda motor dengan kecepatan tinggi,zig-zag dan melanggar lampu pengatur lalu lintas.
Keinginan utuk segera sampai tempat tujuan hendaknya tidak menyebabkan Anda lalai,sembrono dengan cara ngebut. Pada saat mudik arus kendaraan begitu ramai sehingga memerlukan kehati-kehatian. Bahkan arus lalu lintas yang lengangpun dapat memacu pengendara sepeda motor atau pengemudi mobil kurang hati-hati. Menerobos palang kereta api dan lampu lalu lintas agar dihindari juga. Hindari melanggar rambu lalu lintas walau tidak ada petugas.
Hindari juga menelpon, sms, bergurau dan atau bermesraan saat berkendaraan bermotor di jalan raya.

5. Memakai jas hujan atau pakaian dengan bagian yang panjang melambai-lambai.
Mantel/jas hujan berbentuk ponco sering berkibar-kibar ketika dipakai oleh pengendara sepeda motor dan orang yang dibonceng. Bagian yang melambai-lambai ini bisa masuk ke celah-celah roda sehingga menyebabkan pengendara terpelanting. Lebih aman jika Anda memakai jas hujan two pieces (bagian baju dan celana terpisah)

6. Tidak memakai helm pengaman yang baik.
Helm pengaman yang kurang baik kualitasya tak sempurna mengamankan kepala dari cedera akibat benturan keras. Gunakan helm yang bagus,aman dan nyaman. Kaitkan tali pengaman dengan sempurna sampai berbunyi: klik.

7. Membawa penumpang lebih dari 2 orang
Berboncengan lebih dari dua orang memang dilarang oleh Undang-Undang karena berbahaya.

8. Tidak memiliki/membawa SIM dan STNK yang berlaku
Ini jelas melanggar undang-undang dan selayaknya dihindari agar Anda dapat mengendarai sepeda motor dengan tenang. Tidak membawa SIM dan STNK bisa menyebabkan Anda -panik saat melihat petugas polantas, utamanya jika ada razia. Sangat menyedihkan bukan jika Anda harus berurusan dengan petugas padahal ingin segera sampai rumah dann bertemu orangtua dan sanak famili.

9. Meninggalkan sepeda motor tanpa dikunci
Jangan terlalu PD dengan meninggalkan kendaraan tanpa dikunci. Setan memang dibelenggu pada saat bulan Ramadhan namun tetap saja masih ada kejahatan. Kunci sepeda motor Anda walau hanya meninggalkannnya sejenak misalnya buang air kecil atau membeli permen di kaki lima. Penjahat selalu mengintai setiap orang yang lalai dan tidak waspada.
.
Sembilan (9) Hal yang harus dihindari ketika mudik lebaran dengan sepeda motor masih bisa Anda kembangkan lagi. Selamat mudik.

Opick El-Rahman Beserta Keluarga Besar Mengucapkan Mohon Maaf Lahir Dan Batin

Air sungai tak selalu jernih
┆begitu juga ucapanku
└┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶⌣̊✽̶
┏┉⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶┄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┉┓
┆Kapas tak selalu putih
┆begitu juga hatiku
└┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶⌣̊
┏┉⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶┄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┉┓
┆Langit tak selalu biru
┆begitu juga hidupku
└┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶⌣̊✽̶
┏┉⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶┄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┉┓
┆Jalan tak selalu lurus
┆begitu juga langkahku
└┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶⌣̊✽̶
┏┉⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶┄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┉┓
┆Jika Maaf itu bisa terucap hari ini
┆Untuk Apa menunggu hari raya tiba?
┆Sedangkan hembusan Napas pun
┆Kita tak pernah tau kapan akan
┆Berhenti…
┆maka dari itu ku ingin Mohon Maaf atas
┆Kesalahan Kekhilafan maupun
┆Perbuatan yg sengaja ataupun tidak
┆sengaja..yg membuat sakit hati kalian
└┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶⌣̊✽̶.
. Sebelum ramadhan pergi
. Sebelum idul fitri datang
. Sebelum operator sibuk
. Sebelum SMS pending
. Sebelum BBM pending
. Sebelum pulsa habis
┏┉⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶┄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┉┓
┆ Dengan ini saya: Opick El-Rahman Beserta Keluarga Besar dengan rendah hati.
┆ mengucapkan
┆ “MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN”
┆MOHON MAAF LAHIR & BATHIN.

UNTUKMU YG JAUH DSANA

Terkadang ku masih menangis jika mengingatmu
Merasa tak sanggup jika harus kehilanganmu
Karena ku jemu..
Karna ku lelah menapaki jalan rindu

Dan yang terasa hanya sesak di dada
Yang terus menyiksa membuatku tersiksa
Berharap cintaku bisa dalam logika
Merengkuhmu dalam peluk bahagia

Terlalu sakit untukku pendam sendiri
Begitu pahit kenyataan yang harus ku hadapi
Aku sendiri…
Terpenjara dalam rindu yang tak kunjung ku mengerti

Harus ku sebut apa namamu dalam cinta
Andaikan kau tau..
Cintaku melebihi benciku yang membara
Sayangku melebihi sakitku yang kau cipta

Aku tak berdaya..
Aku lemah..
Aku mati rasa.

Cantik(Puisi)

Cantik…
Ingin rasa hati berbisik
Untuk melepas keresahan..dirimu..

Cantik…
Bukan ku ingin mengganggumu
Tapi apa arti merindu..selalu…

Walau mentari terbit di utara
Hatiku hanya untukmu…

Ada hati yang termanis dan penuh cinta
Tentu saja kan kubalas seisi jiwa
Tiada lagi tiada lagi yang ganggu kita
Ini kesungguhan
Sungguh aku sayang kamu..
^_^

LANGSUNG DIBUKA dulu di hadapan panitia.. (JANGAN DIBUKA DI BILIK!).

Untuk mencegah atau meminimalisir kecurangan saat hari H pencoblosan, sebaiknya begitu kita menerima surat suara, LANGSUNG DIBUKA dulu di hadapan panitia.. (JANGAN DIBUKA DI BILIK!).

Lalu setelah dipastikan tidak ada bekas coblosan, barulah kita coblos di bilik suara.. setelah itu dilipat lagi dan dimasukkan ke kotak suara.

Kenapa dibuka di hadapan panitia? karena kalau dibuka di bilik, lalu ternyata sudah ada coblosannya (padahal kita belum coblos), maka bila kita protes, ada kemungkinan akan ditolak karena tidak ada bukti kuat kalau kita belum coblos.

Bila setuju ide ini, silakan sebarkan utk kebaikan

TEORI-TEORI KONSELING: ADAPTASI UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Sunardi, Permanarian, Musjafak Assjari
PLB FIP UPI
A. Fungsi Teori dalam Konseling
1. Konseling sebagai ilmu terapan
Ilmu atau ilmu pengetahuan merupakan sejumlah atau sekumpulan pengetahuan yang disusun secara logis dan sistematik, dan dapat diandalkan dalam menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol gejala-gejala alam atau tingkah laku guna memperbaiki kualitas hidup manusia dan masyarakat. Sedangkan pengetahuan adalah suatu yang diketahui berdasarkan pengindraan dan pengolahan daya pikir. Pengetahuan secara umum juga dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pengetahuan sederhana berupa pengetahuan faktual yang didapat dari pengalaman hidup sehari-hari atau berdasar akal sehat, serta pengetahuan teoritis berupa teori, hokum, prinsip, dan konsep yang telah diuji ketepatannya dengan fakta melalui kegiatan penelitian. Ilmu yang dianggap maju memuat susunan teori-teori tersebut.
Berdasar uraian di atas, dapat ditafsirkan bahwa konseling adalah suatu ilmu pengetahuan atau disiplin ilmu, karena didalamnya sudah berisi berbagai pengetahuan tentang teori-teori bantuan yang disusun secara logis dan sistematis dalam rangka menjelaskan, meramalkan, mengontrol gejala-gejala tingkah laku memperbaiki kualitas hidup manusia. Seperti ditunjukkan dengan berbagai paparan hasil penelitian, buku teks, maupun karya-karya ilmiah yang sudah tersebar luas di masyarakat.
Secara umum suatu dianggap sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri apabila memiliki obyek formal, metode, dan disusun secara sistematis, dan konseling sudah memenuhi persyaratan itu semua. Obyek material konseling adalah manusia dengan segenap perilakunya, sedangkan obyek formalnya adalah upaya bantuan kepada individu yang mengacu pada fungsi layanan yang diberikan, yaitu pengentasan dan pengembangan sehingga memperoleh kualitas kehidupan yang lebih baik. Sedangkan hal-hal yang terkait dengan upaya bantuan tersebut, seperti latar belakang, karakteristik individu, jenis, kondisi yang diperlukan, maupun kemungkinan hasilnya telah dikaji secara luas dan mendalam, termasuk seluk beluk dan keterkaitannya antara yang satu dengan yang lain, serta telah ditata secara logis dan sistematis menjadi paparan ilmu.
Sedangkan metode yang dikembangkan dalam konseling untuk mengungkap obyek-obyek kajiannya telah disusun berdasar teori-teori tertentu yang sudah mapan dan melalui berbagai pendekatan dan tindakan-tindakan berdasar kaidah keilmuan, sehingga dapat digunakan
2 Makalah: TEORI KONSELING, Sunardi, Permanarian, M. Assjari, PLB FIP UPI, 2008
secara ilmiah untuk menafsirkan dan memberi makna secara logis dan sistematis berdasar penalaran dan kaidah-kaidah keilmuan yang selaras dan mapan.
Konseling adalah ilmu yang bersifat multireferensial, karena mengunakan dan memanfaatkan rujukan atau sumbangan dari berbagai ilmu yang lain. Sumbangan tersebut tidak terbatas pada pembentukan dan pengembangan teori-teopri konseling, tetapi juga pada praktek pelayanannya.
Gibson dan Mitchell dan Mitchell (1995) menegaskan bahwa untuk membahas konseling sebagai ilmu, dapat dilakukan secara tepat melalui penggalian tentang “akar” dan munculnya konseling sebagai suatu profesi. Dijelaskan bahwa fundasi yang melahirkan konseling adalah bidang psikologi, sehingga lapangan psikologi telah banyak berkontribusi dalam membangun teori dan proses konseling, standarisasi assesmen, teknik konseling kelompok dan individual, serta teori perkembangan karir dan pengambilan keputusan. Secara khusus bidang psikologi tersebut mencakup: (1) psikologi pendidikan (teori belajar, tumbuh kembang anak, dan implikasinya dalam setting pendidikan, (2) Psikologi sosial, untuk membantu pemahaman tentang pengaruh situasi sosial pada individu, termasuk pengaruh lingkungan pada erilaku, (3) psikologi ekologis, berkaitan dengan studi tentang keterkaitan dan pengaruh timbal balik antara individu dan lingkungan terhadap suatu perilaku, (4) psikologi perkembangan, yang membantu dalampemahaman mengapa dan bagaimana perkembangan individu dan perubahan-perubahan yang terjadi sepanjang kehidupan.
Disamping mendapat sumbangan dari bidang psikologi, ilmu konseling juga mendapat kontribusi dari bidang ilmu yang lainnya, seperti sosiologi (untuk pemahaman kelompok manusia dan pengaruhnya terhadap perilaku manusia), antropologi (untuk pemahaman pengaruh timbal balik kebudayaan dan perilaku manusia), biologi (untuk pemahaman organisme manusia dan keunikannya, maupun teknologi (seperti pemanfaatan komputer dalam penataan menejemen konseling, dsb).
Telah disingung sebelumnya bahwa obyek formal dari ilmu konseling adalah upaya bantuan kepada individu yang mengacu pada fungsi layanan yang diberikan, yaitu pengentasan dan pengembangan sehingga memperoleh kualitas kehidupan yang lebih baik, sehingga sesuai dengan karakteristik dan kedudukannya diangkat sebagai suatu profesi bantuan. Yaitu suatu profesi dengan tugas khusus membantu pencapaian perkembangan pribadi individu secara optimal, dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan, dilakukan untuk mendukung upaya pencapaian tujuan pendidikan secara keseluruhan, serta terkait dengan urusan kemanusiaan. Hal ini berarti bahwa kedudukan konseling adalah juga sebagai ilmu terapan (aplied science).
3 Makalah: TEORI KONSELING, Sunardi, Permanarian, M. Assjari, PLB FIP UPI, 2008
Sebagai ilmu terapan, dalam praktek konseling disamping dapat memanfaatkan teori-teori yang ada sebagai acuan, juga sudah seharusnya disertai dengan usaha-usaha serius untuk menerapkan teori serta prinsip-prinsip yang telah dikembangkan sebagai tuntutan, bukan berdasar atas kebiasaan atau tradisi. Karena itu pula untuk menunjang efektifitas dan efisiensi penerapan/aplikasi dan pengembangannya, telah didukung dengan berbagai pendidikan formal, pengembangan ilmu melalui berbagai penelitian-penelitian lapangan secara ilmiah agar tidak mandul dan steril, dibentuk organisasi profesi, kode etik profesi, serta berbagai kebijakan lain yang menunjang, sehingga pelaksanaannya di lapangan selain menuntut keahlian juga ditunutut kemampuan untuk menterjemahkan dalam suatu program yang baik dan selaras dengan kebutuhan, sehingga keseluruhan layanan yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Tugas utama ilmu pengetahuan adalah menyusun teori-teori, sehingga dapat dihasilkan suatu sistem atau struktur ilmu yang sesuai dengan obyek formalnya. Tiap teori membahas salah satu persoalan (masalah) di sekitar obyek formal tersebut. Sedangkan tugas ilmuwan adalah menulis buku yang memuat suatu ilmu menurut sudut pandang yang bersumber kepada filsafat hidup ilmuwan tersebut.
2. Fungsi dan manfaat teori
Sebagai suatu layanan bantuan, seorang konselor harus berusaha untuk mengkonseptualisasikan proses konseling yang dilakukannya berdasar atas teori-teori yang telah dikembangkan, sehingga dapat lebih dipahami dan diimplementasikan secara tepat. Bagi konselor yang sudah berpengalaman, teori-teori yang ada dapat digunakan untuk lebih memahami tentang perilaku manusia berdasar atas peristiwa, gejala, fenomena yang terjadi dalam proses konseling. Sedangkan bagi konselor pemula atau yang masih mengikuti program pendidikan, disamping dapat dijadikan media untuk membantu memahami perilaku yang muncul berdasar atas gejala, peristiwa, atau fenomennya, sekaligus dapat dijadikan penuntun atau pembimbing terhadap apa yang harus dilakukan dalam proses konseling.
Pepper (Burk dan Stefflre, 1979) menyebutkan bahwa teori adalah kaidah-kaidah atau konvensi manusia untuk menyimpan keteraturan data. Hal ini diperlukan karena ingatan manusia dapat salah, sehinga teori tidak hanya sekedar baik sekali (convenient) tetapi memang diperlukan. Melalui teori seseorang dapat memperoleh penjelasan terhadap sesuatu permasalahan yang terjadi. Karena itu teori disamping harus berisi data yang lengkap juga harus berisi struktur keterkaitannya, sehingga dapat diperoleh informasi yang jelas tentang hubungan antara fakta atau kejadian yang satu dengan yang lain.
Teori juga dapat diartikan sebagai model konseptual atau seperangkat konvensi yang dihasilkan oleh kaum teorist yang didalamnya berisi sekelompok asumsi yang relevan dan secara sistematik berhubungan satu
4 Makalah: TEORI KONSELING, Sunardi, Permanarian, M. Assjari, PLB FIP UPI, 2008
dengan yang lain, serta seperangkat definisi empirik. Menurut Burk dan Stefflre (1979) teori secara umum mengandung dua elemen, yaitu realitas dan keyakinan. Realitas adalah data atau perilaku yang kita amati dan mendorong kita untuk menjelaskan. Sedangkan keyakinan adalah cara kita untuk mencoba memaknai data dengan menghubungkan apa yang kita amati tersebut dengan penjelasan yang dapat memperkaya hal tersebut, sehingga dapat diterima secara meyakinkan.
Setiap teori konseling diyakini dapat memberikan sumbangan yang berharga bagi khasanah manusia dalam pemahaman konseling sebagai ilmu sekaligus dapat dimanfaatkan dalam praktek konseling. Hal ini tidak ubahnya dengan ilmu kedokteran yang dapat dimanfaatkan secara luas oleh para dokter dalam menganlisis penyakit, mendiagnose sebab-sebab suatu penyakit, dan akhirnya dapat digunakan sebagai pedoman dalam pengobatannya secara tepat, termasuk dalam menentukan jenis obat dan dosisnya. Teori juga dapat dianalogkan dengan peta kota yang baik, yang dapat membantu seseorang memahami dimana letak suatu kota atau tempat-tempat tertentu, dan melalui rute mana saja kita bisa mencapainya dengan efisien. Dengan demikian dengan menyandarkan kepada teori, akan memudahkan bagi seorang konselor dalam menentukan arah proses konseling.
Konseling merupakan pekerjaan professional, karena itu dalam dalam melaksanakan profesinya tidak boleh mengandung kesalahan konseptual (serius dan mendalam) sehingga sulit untuk diperbaiki dan dapat berakibat fatal. Teori konseling dapat memberikan jalan bagi terhindarnya pelaksanaan profesi konseling tersebut dari kesalahan konseptual. Dalam merespon pernyataan klien seorang konselor harus melakukannya berdasar atas dugaan tentang makna yang dikemukakan klien, apakah makna pernyataan tersebut dalam kehidupan klien, apakah sesuai dengan tujuan konseling, apa fungsi konselor, apakah teknik-teknik yang dapat berhasil untuk mengerakkan ke arah tujuannya.
Sekali teori telah dibangun dan diterima oleh kalangan ilmuwan dalam bidangnya, maka teori akan melaksanakan berbagai fungsinya, yaitu mengantar sesorang kepada kepeduliannya untuk mengamati hubungan-hubungan yang terjadi, membantu dalam mengumpulkan dan menyusun data yang relevan, menjelaskan kebenaran operasional (mengarahkan kepada ramalan-ramalan yang dapat diuji dan diverifikasi), penggunaan istilah-istiah tertentu secara konsisten, dalam membangun metode-metode baru sesuai dengan situasi yang terjadi atau dalam mengevaluasi metode-metode yang telah dibangun sebelumnya, serta dalam membantu menjelaskan perilaku yang terjadi pada individu dan bagaimana cara-cara mengatasinya.
Secara esensial teori mengarah kepada generalisasi berdasar atas rata-rata, karena itu mungkin akan menghadapi masalah ketika mengaplikasikan teori tersebut kepada kasus-kasus individual, sehingga
5 Makalah: TEORI KONSELING, Sunardi, Permanarian, M. Assjari, PLB FIP UPI, 2008
untuk menjelaskan sesuai dengan keunikan individu sering memerlukan penjelasan lebih.
Suatu teori pada hakekatnya dilatarbelakangi oleh berbagai hal, mulai dari latar belakang kehidupan atau paham pribadi, latar belakang sosial, sejarah, dan paham filsafat tertentu yang mungkin tidak sepenuhnya selaras dengan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya bangsa Indonesia. Oleh karena itu dalam mengimplementasikan teori harus hati-hati serta memperhatikan berbagai aspek secara komprehensif. Secara umum, dalam konseling tidak disarankan untuk menggunaan teori tunggal (single theory) untuk semua kasus atau memaksakan penggunaan satu teori tertentu sehingga menjadi kaku. Akan lebih efektif dan efisien apabila seorang konselor mampu mengembangkan kreasinya dengan mencoba untuk memilih secara selektif bagian-bagian dari beberapa teori yang relevan, kemudian secara sintesis-analitik mencoba menerapkannya kepada kasus yang dihadapi. Cara ini disebut sebagai pendekatan Creative-Synthesis-Analytic (CSA) atau pendekatan elektik.
Mengingat pentingnya teori dalam konseling, maka dalam implementasinya sebaiknya memilih teori-teori yang dianggap baik. Secara umum teori yang baik memiliki 5 atribut formal, yaitu : (1) jelas, dapat dengan mudah dipahami oleh pembacanya, serta tidak bertentangan (2) komprehensif, memiliki skope dan account untuk banyak tingkah laku, dapat menjelaskan apa yang terjadi pada banyak orang dalam banyak situasi, atau mampu menjelaskan fenomena secara menyeluruh, (3) eksplisit, memiliki ketepatan, karena setiap penjelaan didukung dengan data-data yang dapat diuji, (4) parsimonious, sederhana, tidak menjelaskan fenomena secara berlebihan dan jelas, mampu merangsang peneliti untuk mengembangkan teorinya (Burk dan Stefflre, 1979).
3. Klasifikasi teori konseling
Berdasar atas fokus intervensi terhadap klien, Thomson, dkk (2004) telah mengklasifikasikan teori konseling dalam tiga kelompok, yaitu teori yang berfokus kepada kehidupan perasaan, pikiran, dan perilaku klien. Sekalipun masing-masing teori memiliki fokus intervensi yang berbeda, namun dalam konseling harus dipahami bahwa perasaan, pikiran, dan perilaku merupakan satu kesatuan yang terintegrasi dalam sebuah sistem, sehingga perubahan dalam satu dari tiga bidang tersebut akan menghasilkan perubahan dalam dua bidang yang lainnya. Masing-masing bukan sesuatu yang tepisah, sebagaimana simpthom yang terjadi pada penderita schizoprenia, suatu diagnosis yang menjelaskan tentang adanya kehilangan kontak dengan lingkungan, terpisah dari realitas, dan adanya disintegrasi kepribadian. Klasifikasi dan teori-teori yang termasuk didalamnya, dapat digambarkan sebagai berikut :
6 Makalah: TEORI KONSELING, Sunardi, Permanarian, M. Assjari, PLB FIP UPI, 2008
Gambar 4.1
Klasifikasi Teori Konseling
(Adaptasi dari Thomson, dkk, 2004:34)
Berdasarkan atas fokus intervensi dalam konseling, teori konseling
juga dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori. Pertama, teori yang
berfokus kepada peristiwa dan data yang dapat diobservasi : perilaku,
perilaku yang mendahului, konsekuensi perilaku, tujuan-tujuan tingkah
laku, dan perencanaan. Kedua, teori yang berfokus kepada peristiwaperistiwa
yang tidak dapat diobservasi serta data sekitar konseling:
perasaan, pikiran, motivasi, dan sebab-sebab perilaku (Gambar 4.2).
Gambar 4.2
Titik pusat intervensi konseling
(Thomson, dkk., 2004:35)
Gambar 4.2
Fokus intervensi dalam konseling
(Thomson, dkk, 2004:35)
Dalam kategori yang pertama, konselor percaya bahwa seseorang
yang mengalami perasaan tidak enak (A), maka cara agar perasaan
tersebut dapat lebih baik (B) adalah dengan mengubah secara positif.
http://bloghmaseyko.blogspot.com/2012/07/teori-teori-konseling.html?m=1

Hubungan Perkawinan dan Keluarga di dalam Masyarakat

Keluarga merupakan satu satuan
terkecil atau kelompok social
terkecil yang ada di dalam sebuah
masyarakat yang mempunyai fungsi
dan peran-peran masing-masing.
Sebuah keluarga atau familiy terdiri
atas orang-orang yang menganggap
bahwa mereka mempunyai
hubungan darah, pernikahan atau
adopsi.
Keluarga juga bisa diartikan sebagai
dua atau lebih dari dua individu
yang tergabung karena hubungan
darah, hubungan perkawinan atau
pengangkatan dan mereka hidupnya
dalam suatu rumah tangga,
berinteraksi satu sama lain dan
didalam perannya masing-masing
dan menciptakan serta
mempertahankan suatu kebudayaan.
Keluarga dapat terbentuk
berdasarkan perkawinan. Pengertian
perkawinan itu sendiri merupakan
suatu pola social yang dimana dua
orang atau lebih untuk membentuk
sebuah keluarga. Memang tidak
semua keluarga harus diikat oleh
ikatan perkawinan, misalnya saja
kasus kumpul kebo yang
merupakan incest taboo (hal yang
menimpang atau dianggap tabu).
Namun hal ini dapat mengakibatkan
disfungsi pada keluarga itu sendiri.
Banyak pola-pola hubungan antara
perkawinan dan keluarga. Pertama,
seperti yang sudah dijelaskan diatas
tadi, yaitu pola hubungan keluarga
yang tidak didasari dengan
perkawinan atau illegal (kumpul
kebo). Proses sosialisasi ke
masyarakat untuk keluarga seperti
ini cukup sulit. Karena pola
hubungan keluarga dan perkawinan
seperti ini dianggap buruk oleh
masyarakat. Fungsi-fungsi dan
peran masing-masing anggota
keluargapun sulit unutk
dilaksanakan akibat banyaknya
tekanan-tekanan dari masyarakat
sekitar keluarga itu tinggal.
Kedua, pola hubungan perkawinan
dan keluarga didasari dengan
perkawinan yang sah dan legal.
Hampir seluruh warga di Indonesia
merupakan bagian dari pola
hubungan keluarga dan perkawinan
seperti ini. Sehingga proses
sosialisasi untuk keluarga seperti ini
dapat berjalan dengan lancar dan
baik. Keluarga dengan tipe seperti
inipun bisa dikatakan keluarga yang
baik sebab dengan sah dan legalnya
sebuah keluarga, maka proses
sosialasasi dan penerapan fungsi
serta peran-peran dalam masyarakat
dapat berjalan dengan baik.
Terakhir, pola hubungan
perkawinan dan keluarga
berdasarkan hubungan sedarah atau
satu keturunan. Menurut agama
islam, hal ini sangat dilarang karena
menikah dengan orang yang
memiliki hubungan sedarah berarti
menikah dengan seseorang
sepersusuan. Menurut ilmu
kedokteran, menikah dengan
saudara sedarahpun juga dilarang
sebab, jika seseorang menikah
dengan orang yang sedarah
otomatis atauk keturunan yang
dihasilkan merupakan hasil
prcampuran kedua darah yang
sama. Percampuran kedua darah
yang sama ini dapat mengakibatkan
pengumpalan-penggumpalan dalam
tubuh anak itu yang menyebabkan
cacatnya organ atau mental si anak.
Hal seperti ini masih banyak terjadi
pada masyarakat terpencil yang
belum mengerti bahaya menikah
dengan seseorang yang masih ada
hubungan darah. Sehingga ada
beberapa komunitas atau kampung
yang penduduknya memiliki
kelainan jiwa atau cacat. Hal ini
disebabkan karena adap yang
memaksa. Jika mereka tidak
mengikuti adat, maka mereka akan
dikeluarkan dari komunitas tersebut.
Pola-pola hubungan perkawinan
seperti diatas merupakan hal yang
masih sering terjadi dimasyarakat
dunia khusnya di Indonesia sendiri.
Banyak kasus-kasus tentang
kumpul kebo atau nikah sirih yang
mulai terungkap belakangan ini.
Untuk pola keluarga yang tidak
dilandasi perkawinan dapat kita
jumpai di Negara-negara barat.
Beraneka ragamnya pola hubungan
antara keluarga dan perkawinan
menandakan bahwa masyarakat
zaman sekarang sudah mulai
mengalami perubahan social.
Dahulu ketika perkawinan masih
dianggap sacral, tidak ada yang
namanya seseorang melakukan
kumpul kebo atau hal menyimpang
lainnya. Namun seriring
perkembangan zaman, semuanya
telah berubah. Perkawinan dan
sebuah keluarga merupakan suatu
hal yang di anggap sebagai hal yang
tidak sacral lagi.

Pengertian Bimbingan dan Konseling

l. Bimbingan

Konsep kata bimbingan berasal dari kata “guidance”. Guidance dalam memiliki pengertian yang sangat luas, sehingga kata quidance dalam bimbingan pendidikan selalu didefenisikan berdasarkan pada sudut pandang dari para ahli serta penerapannya.

Untuk lebih jelasnya pengertian kita tentang bimbingan, maka berikut dikutip pendapat para ahli sebagai berikut :

 

Tercapainya tujuan dari bimbingan menurut kerja sama yang baik antara staf dan sekolah, yaitu guru konselor, dokter, pekerja sosial, psikologi dan kepala sekolah.Bimbingan sebagai “Process of helping individuals to understand them selves and their word” (proses pemberian bantuan kepada seseorang untuk mengerti masalah dan dunianya).

Sedangkan kurikulum 1975, pengertian bimbingan sebagai berikut : Suatu proses bantuan yang diberikan kepada para siswa dengan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan dan kenyataan-kenyataan tentang adanya kesulitan yang dihadapinya dalam rangka perkembangan yang optimal, sehingga mereka dapat memahami diri, mengarahkan dari, dan bertindak serta bersikap sesuai dengan tuntutan dan keadaan sekolah, keluarga dan masyarakat. (Yusuf Gunawan, Pengantar Bimbingan dan Konseling 1992: 40).

Dari defenisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan memiliki beberapa kata-kata kunci dengan arti sebagai berikut :

a. Klien

Individu yang normal yang membutuhkan bantuan dalam proses perkembangannya.

b. Konselor

Individu yang ahli dan mau memberikan bantuan klien, bisa juga dalam bentuk sebuah tim : guru konselor, psikologi, dokter, perawat, dan kepala sekolah.

c. Usaha Bantuan

Kegiatan proses untuk menambah, mendorong, merangsang, mendukung, menyentuh, menjelaskan, agar individu dapat tumbuh dari kekuatannya sendiri.

d. Tujuan bimbingan

Sebagai hasil proses untuk menemukan diri dan dunianya sehingga individu dapat memilih, merencanakan memutuskan, memecahkan masalah, menyesuaikan secara bijaksana, dan berkembang sepenuhnya kemampuan dan kesanggupannya, serta dapat memimpin dirinya sendiri sehingga individu dapat menikmati kebahagiaan batin yang sedalam-dalamnya dan produktif bagi lingkungannya.

a. Jenis-Jenis Bimbingan

Jenis jenis bimbingan dapat dibagi atas tiga bagian, yakni :

1. Bimbingan pekerjaan

2. Bimbingan pendidikan

3. Bimbingan pribadi

Adapun penjelasan dari masing-masing jenis bimbingan tersebut adalah :

a. Bimbingan pekerjaan

Bimbingan pekerjaan merupakan kegiatan bimbingan yang pertama, asal mula dari bimbingan pekerjaan ini dirintis oleh Departemen Tenaga Kerja di negara ini untuk terjun di tengah-tengah masyarakat.

Istilah bimbingan pekerjaan mulai digeser oleh pemakaian istilah bimbingan jabatan, yang kemudian beralih kepada nama bimbingan karier sejak dilangsungkannya konfrensi ARAVEG (Asian Regional Association for Vocational and Education Guidance) di Jakarta 1983, yang selanjutnya diadakan simposuim yang menghasilkan rumusan konsep bimbingan jabatan sebagai berikut :

“Bimbingan jabatan adalah proses bantuan terhadap seseorang sehingga orang tersebut mengerti dan menerima gambaran tentang diri pribadinya dan gambaran tentang dunia kerjanya, serta mempertemukan keduanya, yang akhirnya dapat mempersiapkan diri dan memasuki bidang tertentu dan membinanya dalam bidang pekerjaan tersebut”

 

b. Bimbingan Pendidikan

Defenisi tentang bimbingan pendidikan telah diberikan oleh sebanyak ahli, diantaranya :

J.D. Hoofengarder (dalam pengantar Dasar Bimbingan dan Konseling) mengatakan :

Bimbingan pendidikan sebagai bagian integral dari program sekolah yang ditujukan untuk mengembangkan dan menggunakan kamampuan-kemampuan sehingga mereka dapat memperoleh nilai maksimal dalam pendidikan formalnya. (Yusuf Gunawan, Pengantar Bimbingan dan Konseling 1992 : 47).

Dari defenisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan tentang bimbingan pendidikan, yaitu : bantuan yang diberikan kepada anak dalam bimbingan dapat berupa informasi pendidikan, cara belajar, pemilihan jurusan lanjutan sekolah, mengatasi belajar, mengembangkan kemampuan dan kesanggupan secara optimal dalam pendidikan atau membuat siswa dapat sukses belajar dan mampu menyesuaikan dari terhadap semua tuntutan sekolah.

c. Bimbingan Pribadi

Bimbingan pribadi adalah memberikan bantuan kepada siswa untuk mengembangkan hidup peribadinya seperti motivasi, persepsi tentang diri, gaya hidup, perkembangan nilai-nilai moral/agama dan sosial dalam diri, kemampuan mengerti dan menerima diri dan orang lain, serta membantunya untuk memecahkan masalah-masalah pribadi yang ditemuinya.

2. Pengertian Konseling

Kata konseling berasal dari bahasa Inggris, yaitu “counseling”, yang berarti “Penyuluhan”. Namun, kata penyuluhan itu sendiri sedemikian luas artinya, sehingga untuk lebih membuat agar spesifikasi lagi, maka berikut disajikan defenisi tentang konseling itu sendiri yaitu :

Konseling mencakup semua bentuk hubungan antara dua orang, dimana seorang adalah klien dibantu untuk dirinya sendiri dan lingkungannya.

Back (dalam Bimbingan dan Konseling di sekolah lanjutan) mengemukakan pendapatnya tentang konseling sebagai berikut :

a. Konseling mengandung arti sebagai bantuan kepada individu untuk menyesuaikan diri dalam situasi kritis

b. Konseling adalah membantu individu untuk menyatakan dirinya ke dalam suatu pemecahan masalah yang rumit untuk mempengaruhi perubahan sebagian besar dari tingkah laku klien secara suka rela.

c. Konseling diartikan sebagai proses hubungan antara dua orang, dimana yang satunya dibantu dengan yang lainnya untuk meningkatkan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah.

Bimbingan Dan konseling

BIMBINGAN DAN KONSELING
KATA PENGANTAR
Bimbingan dan konseling adalah dua istilah yang sering kita jumpai bagaikan kata majemuk. Bimo Walgito (1982: 11) merumuskan bahwa bimbingan menurut banyak ahli, bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu-individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan didalam kehidupanya, agar individu atau sekumpulan individu-individu itu dapat mencapai kesejahteraan hidupnya.
Bimo Walgito (1982: 11) menyatakan bahwa konseling adalah bantuan yang diberikan kepada individu dalam memecahkan masalah kehidupanya dengan wawancara, dengan cara-cara yang sesuai dengan keadaan individu yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidupnya.

POKOK MASALAH
Peranan bimbingan dan konseling dalam pembelajaran siswa.
Landasan dan bimbingan konseling
Prinsip –prinsip operasional bimbingan dan konseling di sekolah

PEMBAHASAN
Peranan bimbingan dan konseling dalam pembelajaran siswa.
Beberapa gejala bahwa siswa mengalami kesulitan dalam belajar seperti yang dikemukakan Abu Ahmadi (1977) sebagai berikut:
Hasil belajarya rendah, dibawah rata-rata kelas.
Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukanya.
Menunjukkan sikap yang kurang wajar: suka menentang, dusta, tiddak mau menyelesaikan tugas-tugas, dan sebagainya.
Menunjukkan tingkah laku yang berlainan seperti suka membolos, suka mengganggu dan sebagainya.

Siswa yang mengalami kesulitan belajar kadang-kadang ada yang mengerti bahwa dia mempunyai masalah ttetapi tidak tahu bagaimana mengatasinya, dan ada juga tidak mengerti kepada siapa ia harus meminta bantuan dalam menyelesaikan masalahnya itu. Apabila masalahnya itu belum teratasi, mereka mungkin tidak dapat belajar dengan baik, karena konsentrasinya akan terganggu. Jika kondisinya demikian maka mereka (siswa-siswa iitu) membutuhkan bimbingan dan konseling yang meliputi antara :
Bimbingan belajar
Bimbingan – bimbingan ini dimaksudkan untuk mengatasi masalah –masalah yang berhubungan dengan kegiatan belajar baik disekolah maupun diluar sekolah.
Cara belajar, baik belajar secara kelompok ataupun individual.
Cara bagaimana merencanakan waktu dan kegiaan belajar.
Efisiensi dalam menggunakan buku-buku pelajaran.
Cara mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan degan mata pelajaran tertentu.
Cara, proses, dan prosedur tentang mengikuti pelajaran.
Menurut Winkel (1978) mengatakan bahwa layanan bimbingan dan konseling mempunyai peranan penting untuk membantu siswa, antara lain dalam hal:
Mengenal diri sendiri dan mengerti kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi mereka, baik sekarang maupun yang akan dating.
Mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajarnya. Misalnya masalah hubungan muda-mudi. Masalah ekonomi,masalah hubungan dengan orang tua/keluarga, dan sebagainya.

Bimbingan social, dan
Dalam proses belajar di kelas siswa juga harus mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan kelompok. Dalam kehidupan kelompok perlu adanya toleransi/tenggang rasa, saling member dan menerima (take and give), tidak mau menang sendiri, atau kalau mempunyai pendapat harus diterima dalam mengambil keputusan. Bimbingan social ini dimaksudkan untuk membantu siswa dalam memecahkan dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan masalah social, sehingga terciptalah suasana belajar-mengajar yang kondusif. Menurut Abu Ahmadi (1977) bimbingan social ini dimaksudkan untuk:
Memperoleh kelompok belajar dan bermain yang sesuuai.
Membantu memperoleh persahabatan yang sesuai.
Membantu mendapatkan kelompok sosial untuk memecahkan masalah tertentu.
Disamping itu, bimbingan sosial juga dimaksudkan agar siswa dapat melakukan penyesuaian diri terhadap teman sebayanya baik di sekolah maupun di luar sekolah (Downing, 1978).

Bimbingan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi.
Bimbingan ini dimaksudkan untuk meringsnkan beban siswa dalam mengatasi masalah-maslah pribadi, yang dapat mengganggu kegiatan belajarnya. Siswa yang mempunyai masalah dan belum dapat diatasi/dipecahkan, akan cenderung terganggu konsentrasi dalam belajarnya, dan akibatnya prestasi belajar yang dicapainya rendah. Dalam kurikulum SMA tahun 1975 buku III C tentang pedoman Bimbingan dan penyuluhan dinyatakan ada beberapa masalah pribadi yang memerlukan bantuan konseling, yaitu masalah akibaat konflik antara:
Perkembangan intelektual dengan emosinya.
Bakat dengan aspirasi lingkunganya.
Kehendak siswa dengan orang tua atau lingkunganya.
Kepentingan siswa dengan orang tua atau lingkunganya.
Situasi sekolah dengan situasi lingkungan.
Bakat dan pendidikan yang kurang bermutu dengan kelemahan
keengganan mengambil pilihan.
Hal yang serupa yang di kemukakan oleh downing (1968) bahwa layanan bimbingan di sekolah sangat bermanfaat. Terutama dalam membantu:
menciptakan suasana hubungan sosial yang menyenangkan.
Menstimulasi siswa agar mereka meningkatkan partisipasinya dalam kegiatan belajar – mengajar.
Menciptakan atau mewujudkan pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Meningkatkan motivasi belajar siswa.
Menciptakan dan menstimulasi tumbuhnya minat belajar.

Landasan dan bimbingan konseling
Pemberian layanan bimbingan dan konseling pada hakikatnya selalu didasarkan atas landasan –landasan utama atau prinsip-prinsip dasar. Hal ini berupaa keyakinan – keyakinan yang pada akhirnya dapat mewarnai seluruh kegiatan bimbingan dan konseling. Menurut Winkel (1991) landasan – landasan itu adalah sebagai berikut.
Bimbingan selalu memperhatikan perkembangan siswa sebagai individu yang mandiri dan mempunyai potensi untuk berkembang.
Bimbingan berkissar pada dunia subjektif masing – masing individu.
Kegiatan bimbingan dilaksanakan atas dasar kesepakatan antara pembingbing dengan yang dibimbing.
Bimbingan berlandaskan pengakuan akan martabat dan keluhuran individu yang dibimbing sebagai manusia yang mempunyai hak – hak asasi (human rights).
Bimbingan adalah suatu kegiatan yang bersifat ilmiah yang mengintegrasikan bidang –bidang ilmu yang berkaitan dengan pemberian bantuan psikologis.
Pelayanan ditunjukkan kepada semua siswa, tidak hanya untuk individu yang bermasalah saja.
Bimbingan merupakan suat proses, yaitu berlangsung secara terus – menerus, berkesinambungan, berurutan, dan mengikuti tahap – tahap perkembangan anak.
Landasan –landasan tersebut merupakan dasar filosofis dalam layanan bimbingan dan konseling. Sebagai satu kegiatan yang bersifat professional. Dasar ini menetukan pendekatan (approach) yang di tempuh dalam membantu klien untuk memecahkan masalahhnya.
Prinsip – Prinsip Operasional Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Prinsip –prinsip yang dimaksud ialah landasan teoretis yang mendasari pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling, agar layanan tersebut dapat lebih terarah dan berlangsung dengan baik. Bagi para konselor dalam melaksanakan kegiatan ini perlu sekali memperhatikan prinsip – prinsip tersebut. Berikut tentang ini di kemukakan rumusan tentang prinsip – prinsip bimbingan yang dituangkan dalam kurikulum SMA tahun 1975 buku III C tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling, yang selanjutnya akan diganti dengan pedomana bimbingan dan konseling dalam kurikulum 1994.
Prinsip –prinsip umum ini dikemukakan beberapa acuan umum yang mendasari semua kegiatan bimbingan dan konseling. Prinsip – prinsip ini antara lain :
Karena bimbingan itu berhubungan dengan sikap dan tingkah laku individu, perlu diingat bahwa sikap dan tingkah laku individu itu terbentuk dari segala aspek kepribadian yang unik dan ruwet, sikap dan tingkah laku tersebut dipengaruhi oleh pengalaman – pengalamanya.
Perlu dikenal dan dipahami karakteristik individual dari individu yang dibimbing.
Bimbingan di arahkan kepada bantuan yang di berikan supaya individu yang bersangkutan mampu membantu atau menolong dirinya sendiri dalam menghadapi kesulitan – kesulitannya.
Program bimbingan harus sesuai dengan program pendidikan disekolah yang bersangkutan.
Pelaksanaan program bimbingan harus di pimpin oleh seorang petugas yang memiliki keahlian dalam bimbingan dan sanggup bekerja sama dengan para pembantunya serta dapat dan bersedia mempergunakan sumber –sumber yang berguna di luar sekolah.
Terhadap program bimbingan harus senantiasa diadakan penilaian secara teratur untuk mengetahui sampai di mana hasil dan manfaat yang diperoleh serta persesuaian antara pelaksanaan dan renccana yang dirumuskan terdahulu.
Prinsip – prinsip yang berhubungan dengan individu yang di bombing
Layanan bimbingan harus diberikan kepada semua siswa. Maksudnya bahwa pembimbing dalam memberikan layanan tidak tertuju kepada siswa tertentu saja, tetapi semua siswa perlu mendapatkan bimbingan, baik yang mempunyai masalah ataupun belum.
Harus ada kriteria untuk mengatur prioritas layanan kepada siswa tertentu. Misalnya: beerupa hasil belajar mereka peroleh.Semakin rendah hasil hasil belajar siswa dari sebelumnya. Maka mereka itu perlu diprioritaskan untuk mendapatkan bantuan, dan hal itu tidak boleh ditunda –tunda sebab jika ditunda maka akan menyebabkan kesulitan, baik yang menyangkut belajarnya maupun emosionalnya.
Program bimbingan harus berpusat pada siswa. Program yang disusun harus didasarkan atas kebutuhan siswa.
Layanan bimbingan harus dapat memenuhi kebutuhan – kebutuhan individuyang bersangkutan secara serba ragam dan serba luas.
Keputusan terakhir dalam proses bimbingan ditentukan oleh individu yang dibimbing. Dalam pelaksanaan bimbingan, pembimbing tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada individu yang dibimbing. Peranan pembimbing hanya memberikan arahan – arahan serta berbagai kemungkinan, dan keputusan mana yang akan diambil diserahkan sepenuhnya kepada individu yang dibimbing. Dengan demikian klien mempunyai tanggung jawab penuh terhadap keputusan yang diambilnya itu.
Indivvidu yang mendapat bimbimbingan harus berangsur – angsur dapat membimbing dirinya sendiri. Hasil pemberian layanan diharapkan tidak hanya berguna pada waktu pemberian layanan itu saja, tetapi jika individu mengalami masalah yang sama dikemudian hari ia akan dapat mengatasinya sendiri, ehingga tingkat ketergantungan individu kepada pembimbing semakin berkurang. Tujuan akhir dari kegiatan ini ialah memandirikan individu yang dibimbing (klien) dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.

Prinsip – prinsip khusus yang berhubungan dengan individu yang memberikan bimbingan
Konselor disekolah dipilih atas dasar kualifikasi kepribadian, pendidikan, pengalaman, dan kemampuanya. Karena pekerjaan bimbingan merupakan pekerjaan yang memerlukan keahlian dan keterampilan – keterampilan tertentu, maka pekerjaan bimbingan itu tidak dapat dilakukan oleh semua oang. Dengan demikian, orang yang bertugas sebagai pembimbing disekolah harus dipilih atas dasar – dasar tertentu, misaalnya: kepribadian, pendidikan, pengalaman, dan kemampuanya, karena kualifikasi tersebut dapat mendukung keberhasilan pembimbing dalam melaksanakan tugasnya. Banyak maslah – masalah yang dalam pemecahanya diperlukan dukungan pengalaman pembimbing, keluasan wawasan maupun lainya.
Konselor harus mendapat kesempatan untuk mengembangkan dirinya serta keahlian melalui berbagai latihan penataran. Karena ilmu tentang bimbingan terus berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan lainya. Agar pembimbing dapat mengikuti dan menguasai perkembangan tersebut, pembimbing hendaklah mencari/mendapatkan kesempatan untuk mengikuti berbagai latihan dan ppenataran, sehingga potensi yand dimiliki pembimbing itu lebih berkembang lagi. Dengan demikian teknik – teknik bimbingan yang dikuasai pembimbing akan lebih kaya, dan wawasanya tentang bimbingan akan lebih luas.
Konselor hendaknya selalu mempergunakan informasi yang tersedia mengenai individu yang di bombing beserta lingkunganya, sebagai bahan untuk membantu individu yang bersangkutan kea rah penyesuaian diri yang lebih baik. Untuk efektifnya pemberian bantuan kepada anak didik, pembimbing perlu mengetahui informasi tentang anak didik serta lingkunganya. Penguasaan informasi tersebut akan memudahkan pembimbing untuk membantu anak didiknya dalam mencarikan alternatif – alternatif pemecahan masalah yang dihadapinya serta dalam mengembangkan kemampuan untuk melakukan penyesuaian diri secara baik.
Konselor harus menghormati dan menjaga kerahasiaan informasi tentang individu yang dibimbingnya. Informasi yang diperoleh dari individu yang dibimbing itu ada yang perlu dirahasiakan, maka individu yang bersangkutan akan merasa malu dan akhirnya individu tersebut tidak akan percaya pada pembimbing. Sebagai akibanya jika pada masa datang ia mengalami masalah, ia tidak akan menyampaikanya secara jujur kepada pembimbing. Bila klien merasa yakin bahwa rahasia pribadinya terjamin, maka ia akan mau membukakan dengan terus terang permasalahan – permasalahan yang sedang dihadapinya. Dengan demikian, pembimbing dapat memperoleh informasi yang lengkap dan jelas tentang klien, sehingga mempermudah mengetahui sumber penyebab timbulnya masalah dan mempercepat pemecahan masalah itu.
Konselor hendaknya mempergunakan berbagai jenis metode dan teknik yang tepat dalam melakukan tugasnya. Karena keunikan masalah yang dialami oleh individu dan latar belakangnya maka dalam pemberian layanan, pembimbing dituntut untuk menguasai berbagai metode dan teknik bimbingan. Disamping itu, pembimbing juga harus menggunakan berbagai metode untuk mengatasi masalah yang dapat diselesaikan dengan satu teknik saja dan ada pula yang memerlukan lebih dari satu teknik atau metode.
Konselor hendaknya memperhatikan dan mempergunakan hasil penelitian dalam bidang: minat, kemampuan, dan hasil belajar individu untuk kepentingan perkembangan kurikulum sekolah yang bersangkutan. Dengan menggunakkan data yang tepat maka kegiatan bimbingan akan lebih bermakna bagi individu yang dibimbing khususnya dan pengembangan kurikulum sekolah pada umumnya.

Prinsip – prinsip Khusus yang berhubungan dengan Organisasi dan Administrasi bimbingan
Bimbingan harus dilaksanakan secara berkesinambungan.
Dalam pelaksanaan bimbingan haarus tersedia kartu pribadi(cumulative record) bagi setiap individu(siswa). Hal ini sangat diperlukan untuk mencatat data pribadi individu secara sistematik yang dapat digunakan untuk membantu kemajuan individu yang bersangkutan. Dengan demikian, pembimbing dapat dengan mudah mengetahui perkembangan masalah Klient dan pembimbing mempunyai data yang lengkap tentang keadaan klienya.
Program bimbingan harus disusun sesuai dengan kebutuhan sekolah yang bersangkutan. Karena pelaksanaan bimbingan terintegrasi dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, maka dalam penyusunan program bimbingan juga harus sesuai dengan program sekolah itu agar layanan bimbingan mempunyai sumbangan yang besar terhadap program sekolah.
Pembaagian waktu harus diatur untuk setiap petugas secara baik. Ini untuk menghindari penumpukan tugas –tugas dari para pembimbing. Disamping itu, juga untuk menghindari kekecewaan siswa yang merasa senang pada pembimbing tertentu, tetapi pembimbing tersebut tidak ada.
Bimbingan harus dilaksanakan dalam situasi individual dan dalam situasi kelompok, sesuai dengan masalah dan metode yang dipergunakan dalam memecahkan masalah itu.
Sekolah harus bekerja sama dengan lembaga – lembaga di luar sekolah yang menyelenggarakan layanan yang berhubungan dengan bimbingan dan penyuluhan dan umumnya.
Kepala sekolah memegang tanggung jawab tertinggi dalam pelaksanaan bimbingan.

KESIMPULAN
Untuk membantu proses perkembangan pribadi dan mengatasi mmasalah yang dihadapi sering kali siswa memerlukan bantuan professional. Sekolah harus dapat menyediakan layanan profesioanal yang dimaksud berupa layanan bimbingan dan konseling, karena sekolah merupakan lingkungan akan yang terpenting sesudah keluarga. Layanan ini dalam batas tertentu dapat dilakukan guru, tetapi jika masalahnya berat diperlukan petugas khusus konselor untuk menanganinya.

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 472 other followers